Thursday, January 31, 2013

2. Nasehat Bapak

"kamu itu bisa menjadi penerang di saat orang tidak mengetahui arah"

 *****************

"Kak ini apa ?" Naina memegang sebuah kotak kecil.
"MP3 Player, buat Naina" Komeng menjawab sambil membuka. di dalamnya ada sebuah kotak kecil.
"Empetri palyer itu buat apa?"
"Em - pe -tri - play-yer , sudah di isi juz'ama sama kakak, supaya Naina bisa hapal cepat. kakak hapalannya juga jelek, mungkin nanti Naina bisa lebih pintar lagi".
"Bagaimana ini kak mulainya"
"Sini lihat perhatikan, ini untuk menghidupkan, ini untuk putar, ini untuk maju dan ini untuk mundur, nah kalau mau suaranya di atur, tombol maju atau mundurnya tekan agak lama".

Nania memainkan MP3 player barunya. terdengar alunan ayat suci, sambil berlari lari ia mencari ibunya kesana kemari.
"Ibu-ibu dimana .. ini aku punya ini Bu ..."
"Ibu di sini" Terdengar suar Ibunya dari luar.
"Ibu lihat ini ..!!"
Kemudian Nania ke luar rumah dan terdengar bercakap-cakap dengan Ibunya, Nania menjelaskan apa yang tadi di dengar dari Kakaknya kepada Ibunya.

Tak berselang lama terdengar suara khas kaleng terseret dan beradu dengan tanah dan bebatuan.
"Bapak !!" dalam hati Komeng. terdengar sayup-sayup Bapak bercengrama dengan Ibunya di selingi suara Nania yang tidak henti-henti. Kemudian komeng ke depan rumah.
Komeng manyalami seorang laki-laki yang cukup tegap dengan usia tidak lebih dari 35 tahunan.
"Gimana, sehat ?"
"Sehat Pak". Komeng menjawab pertanyaan Bapaknya.
"Sudah makan ?"
"Sudah tadi siang"
"Ayolah sekarang sudah sore, makan bersama-sama. sudah setahun kita tidak kumpul"
"Tapi Pak, ".
"Ayolah, . Bu Ambilkan makanan dan gelar tikar"
"Bu Nania ikut bantu ya " Nania bersemangat.
"Ayo... nanti Nania bawa yang kecil-kecil saja ya" Ibunya menuntun Nania kedalam.

Komeng memang tidak berselera makan, bukan karena masih kenyang, tapi karena khawatir akan pertanyaan Bapaknya kenapa sampai ia berhenti bekerja mendadak tanpa memberitahu terlebih dahulu. ada perasaan was-was dan juga takut bapaknya akan marah. Ia tahu bahwa waktu sekolahpun orangtuanya menyekolahkan dengan sangat kepayahan dan berharap kelak ia akan mendapat pekerjaan yang layak.



Selepas Isya baru Bapaknya mengajak ngobrol di depan rumah. sambil membawa cangkir berisi gula asem. seduhan Gula Merah dengan Asem untuk menyegarkan badan. memang tidak umum di minum pada malam, tapi luamayan menghangatkan juga kalau masih panas.
"Komeng, ".
"Ya Pak"
"Hehehehe, Bapak masih terbawa-bawa temanmu" sambil tertawa.
"Komarudin" Bapaknya menyambung lagi. sambil agak lama menerawang langit cerah yang terlihat ada bintang dan bulan bersinar. Komeng memperhatikan Bapaknya, menunggu apa yang akan di ucapkan.
"Kamu tahu apa arti nama kamu"
"Ya Pak"
"Apa itu"
"Kalau tidak salah Qomar itu Bulan dan Din itu Agama"
"Ya benar, tapi kamu tahu mengapa Bapak memberimu nama Komarudin?"
"Enggak Pak"
"Hmmm" Bapaknya merenung kmudian menyambung "Bapak memberimu nama Komarudin, supaya kamu itu bisa menjadi penerang di saat orang tidak mengetahui arah, sekaligus tidak silau melihatmu. itulah mengapa bapak memilih komarudin, bukan Syamsudin atau Nurdin. karena cahaya yang berlebihan pun tidak baik. Bapak sadar, kita ini orang kecil."
"Ya . Pak"
"Apapun yang kamu lakukan, ingat jangan pernah meninggalkan Sholat"
"Ya  pak saya janji"
"Bagus, Bapak tidak akan menanyakan apa alasan kamu pulang dan berhenti kerja. bapak rasa jawabannya nanti ada dengan sendirinya".
"Terimakasih Pak, Komar janji tidak akan buat malu Bapak!"
"Ya , bagus, kamu istirhat dulu sana, nanti besok-besok kamu cerita pengalaman kamu kerja di sana"
"Ya pak, tapi Komar tidak akan tinggal lama di rumah Pak, ada janji sama teman-teman"
"Teman-teman mu ? yang suka kesini ?"
"Iya Pak."
"Mereka pulang juga ?"
"Iya Pak"
"Haduh kamu itu mau ngapain sih?"
"Tuh katanya bapak gak bakalan tanya-tanya"
"Iya tapi kamu bawa-bawa teman kamu pulang juga, apa nanti tidak bikin masalah sama keluarganya ? ".
"Komar janji tidak akan bikin masalah kok pak"
Sambil mengerinyitkan dahi Bapaknya Komeng geleng gelengkan kepalanya. "Ya sudah sana istirahat"

Komeng masuk ke kamar tamu dan tidur di kursi panjang, sementara Bapaknya memikirkan apa kemungkinan yang akan terjadi nanti dengan anak sulungnya itu.


bersambung..   3. Markas yang terkepung
Enhanced by Zemanta

No comments: