Thursday, January 31, 2013

1. Setelah Satu Tahun

Sesuai perjanjian, satu tahun mengembara dan mencari penghidupan layak. Setelah itu kembali membawa hasil atau pengalaman yang di dapat dan berbagi dengan empat temannya yang lain. terasa baru kemarin lulus dari sekolah dan walaupun berat, ternyata satu tahun itu terasa cepat. mungkin walaupun begitu, ada kesenangan di sana yang tidak bisa tergambarkan tapi tidak langsung terasa. yang ada hanya waktu yang terasa cepat berlalu

Sengaja turun agak jauh untuk sekedar melihat-lihat keadaan kota yang di tinggalkannya setahun lalu. tak banyak yang berubah tapi kini pinggir jalan banyak toko-toko baru dan juga banyak minimarket di sana. berpikir kemanakah orang-orang dulu yang ia kenal, berpindah apa hanya mengontrakan tokonya ?.

Lima hari lagi, sebelum waktu itu tiba, bisa kerumah dulu. Melepas rindu dengan Bapak juga Ibu yang setahun ini belum di kunjungi, dan si kecil Nania yang mungkin sudah agak besar sekarang. setelah itu baru menuju rumah persaudaraan. sebuah rumah yang di buat oleh kami berempat. tempat bermain dan mengerjakan tugas sekolah.

"Komarudin !"
"Bu", Komarudin meraih tangan perempuan di depannya dan menciumnya.
"Apa libur kerjamu ?"
"Tidak Bu".
"Kamu bolos".
"Enggak juga"
"Lalu apa ? ini juga kan bukan hari libur" Ibu komeng mengerinyitkan dahinya.
"Saya berhenti kerja bu"
"Apa ?" terlihat raut muka keheranan di wajah ibunya.
"Iya bu saya berhenti"
"lalu kamu nanti kerja apa ? mau kemana ?"
"Nggak kemana mana bu mau di sini saja"
"Lalu kerja apa kamu nanti ? mau jadi seperti bapakmu yang cuma narik beca  ?"
"Apa sajalah bu, yang penting halal"
"Oalah kamu ini ... " sambil muter2 ibu komeng memperlihatkan rasa cemas dan kekecewaan.

Tiba2 ada yang muncul dari dalam
"Kakak..."
"Nania, Udah gede ya, aduh amkin berat saja pula". komeng memeluk dan mengangkatnya.
"Ihhhhh, TURun....."
"Ahahaha, Kenapa ?"
"Kan Nania udah gede, masa masih di ais-ais"
"Iya yah udah gede"
"Iya makanya, nanti kalau temen lihat gimana ? kan malu".
"Ayo kedalam yuk, Kakak punya oleh-oleh" , Komeng punya angin untuk membawanya pergi sembunyi dari percakapan dengan Ibunya.
"Ayo..." Nania mengiyakan.
Ibunya hanya menhan nafas, tau kalau anaknya mencari pengalihan.



Bersambung ... 2. Nasehat Bapak

No comments: