Saturday, January 12, 2013

Beda Pandangan

Ku kayuh sepeda tua ini menuju tempat kerjaku. tidak terlalu jauh tapi lumayan lah untuk olahraga di pagi hari. sambil melihat pemandangan pagi yang sibuk, sesekali harus menengok ke belakang kala melewati tukang becak karena takut di seruduk motor atau mobil yang sepertinya semakin banyak saja di kota ini.

Tiga tahun sudah aku meningggalkan kota ini untuk sekolah di tempat lain. sekolah yang katanya harus ku tempuh agar gamang mencari uang. dan sekembalinya dari sana trnyata uang tetap saja tidak mengejarku dan aku memilih untuk kembali ke sini tempat di mana aku di lahirkan. mungkin karena panggilan kerja yang tak jua datang dan uang kiriman semakin hari semakin menipis.

Seperti biasa tugasku hanya membuka toko dan bersih-bersih dan melayani pembeli, harga barang sudah ada tertera di tiap label dalam bentuk sandi yang tiap toko punyai sendiri. jadi tidak ada kekhawatiran salah memberi harga, cuma sesekali aku suka di tanya mengapa tidak pernah ada barang terjual di atas harga normal oleh pemilik toko. yah mungkin latar belakang pendidikanku yang setiap hari bergelut dengan mesin dan jarang bertemu orang dan yang penting pekerjaan selesai. mungkin lain kali aku harus belajar bagaimana cara berdagang.

Pagi itu tidak terlalu sibuk. memasuki musim hujan tidak terlau banyak debu beterbangan yang membuat toko ku kotor. setelah tugas beres2 dan bersih-bersih selesai ku berdiri sambil menopang kepala denmgan tangan kiriku di tas etalase, Tiba-tiba bulir-bulir air turun dari langit secara tiba-tiba. banyak motor dan orang yang menepi . tak lama sedikit-sedikit orang yang berteduh kembali pergi setelah keperluan mereka berlindung dari air hujan, tertutupi oleh payung  dan jas hujan.

Tinggal beberapa orang saja yang tertinggal di depan toko. kadang mereka melirik ke arahku. mungkin karena melihat lantai yang sudah bersih di pakai tempat berteduh oleh alas kaki mereka yang sudah menginjak beceknya tanah yang kehujanan. aku hanya tersenyum saja, menandakan silahkan saja. tapi kupikir lebih baik aku bersembunyi di balik etalase supaya mereka tidak terlalu merasa bersalah. sambil melirik sekali lagi dan ! memang aku harus bersembunyi di balik etalase !

Tak pernah aku melihat ada anak sekolah SMA dekat sini yang begitu cantik. sekilasan tadi aku melirik pas dia tersenyum dan aku tak tau apa yang aku lakukan beberapa detik itu. mudah-mudahan bukan hal bego yang aku lakukan. dengan tetap duduk di ubin di balik etalase dan menunggu hujan berhenti, walau kadang aku mengintip di balik barang yang menumpuk.


Sekarang aku punya penyakit baru, penyakit perut yang terasa sakit dan tidak bisa di obati dengan promag atau malah dengan obat diare karena tidak menyebabkan mencret. penyakit ini membuatku bingung dan mungkin sakit kepala, akan tetapi untuk minum bodrekpun sepertinya bukan jawaban. sakit ini akan terasa berkurang kala pagi datang dan kegiatan di toko di mulai. dan ketika ada langkah gemulai melewati dan kulihat senyum manis walaupun bukan kepadaku sakit itupun pudar.

Beberapa hari berlalu kini aku tahu namanya walau tidak berkenalan secara formal dan tampaknya diapun tau namaku, walau sebenarnya itu hanya nama panggilan. selalu ketunggu kadatangannya lewat di depan toko. kini tampaknya peruntungan berpihak padaku. setiap kali lewat dia pasti melambaikan tangannya dan ketika pulang selalu saja menunggu jemputan pulang di depan tokoku. pernah kutanya mengapa sering di sini, katanya supaya kalau hujan tidak jauh berteduh. alibi yang kuat pikirku sambil tersenyum.

Hari berganti bulan dan tak terasa setelah lama liburan hari raya Idul Fitri kembali sekolah di mulai, tapi ternyata yang masuk sekolah memakai kerudung wanitanya dan laki-lakinya memakai baju tangan panjang dan sebagian memakai peci. halal Bihalal katanya ketika salah satu nya di tanya. hmm sudah lama tidak bertemu dia kataku dalam hati.

Sudah seperempat siang dan tak ada yang lewat lagi, ternyata yang di tunggu tak datang juga. mungkin hari ini tidak masuk pikirku. ini kan bukan hari yang harus masuk sekolah. mungkin dia malas-malasan di rumah atau masih di luar kota, liburan di saudaranya.

Bubaran sekolah yang biasanya kutunggu, sekarang hanya menambah pemandangan ramai saja yang menghiasi suasana sekitar toko. biasanya duduk di depan menunggu Andin yang biasanya lewat. sekarang sudah di pastikan tidak ada karena tadi pagipun tidak terlihat dan terdengar langkahmya.

Kembali bersembunyi di balik etalase dan duduk malas-malasan menunggu kiriman catering dari pemilik toko. "agak telat nih tumben" pikirku. mau merebahkan diri yang pegal-pegal ini kayaknya gak mungkin.

"Assalamualikum" riuh suara di depan sana.
"Walaikum salam" ku menyahut dan berdiri. kulihat ada beberapa Gadis berkerudung, siapa ya, keperhatikan satu persatu dan ah di sana kulihat ada wajah yang kukenal. Terlihat tambah manis di balut pakaian panjang dan kerudung, walau terlihat seperti ada yang kurang. ya terasa kurang yang terbiasa memakai dan tidak sangat terlihat.


"Kak ada yang mau lebaran nih" , salah satu dari mereka berkata.
emudian Andin keluar dari kumpulan temannya dan mengulurkan tangan sambil berkata "maaf lahir bathin ya kak ?".
Aku tertegun sekejap, kemudian reflek menyatukan tangan di depan dada kemudian menekuk lutut dan berkata "Semoga ibadah romadhonnya di terima ya ?
Andin yang hendak menyambut tanganku bersalaman agak terkejut melihat akau hanya bersikap demikian tanpa mau membalas menjabat tangannya. sambil melirik kenan dan keiri ke arah kawannya. Melihatnya seperti itu seperti ada kekecewaan yang terlintas di matanya.
"Kok gitu sih ?" Andin berkata
"Kenapa ? " jawab ku
"Kakak kok sombong sih jabat tangan aja gak mau ? !"
"tapi kan tadi sudah di balas "..
"Iya tapi masa sih cuman gitu doang, ih aneh sok jual mahal deh" andin menimpali  dan kemudian "yu ah kita pulang" berkata pada teman-temannya.
AKu masih terkesima dan bingung ada apa ini. dan sampai sore hari sampai too di tutupkan masih terasa tidak enak hati.

Esoknya di tempat biasa, masih kulihat andin, tapi tidak seperti biasa, senyumnya ada sunggingan kecil ketika melewatiku. "mungkin inilah yang harus ku terima, menghargai wanita malah balas tidak di hargai", rutukku. "


No comments: