Tuesday, July 23, 2013

3. Markas Yang Terkepung

Baca cerita sebelumnya

Hari Kamis, tepat setahun. Hari ini komeng dan teman-temannya sudah berjanji berkumpul. mengevaluasi apa yang telah merka kerjakan selama satu tahun. apa saja yang di dapatkan dan apa yang akan mereka kerjakan kemudian.

Tepat jam lima sore komeng pergi membawa tas. berjalan menyuri jalan desa yang sudah terlihat lobang di sana dan disini. biasanya jalan akan bagus lagi bila mendekati pemilihan. para calon menyumbang untuk pembangunan jalan, baik itu di minta atau ada anggota masyarakat yang mengajukan permintaan.

Di depan sudah terlihat jembatan yang dari dulu masih terbuat dari rangka besi dan dai lapisi kayu untuk perlintasan. jalan ini menghubungkan ke sebuah hutan yang kini sudah habis di babat oleh keluarga penguasa negri ini.

Terlihat ada dua orang yang sedang duduk-duduk disana. duduk bertengger di rangka besi jembatan. Komeng tersenyum dan melambaikan tangan. berlari dan menghampiri kedua orang tersebut.
"Assalamualaikum!"
"Walaikum salam " serentak mereka berdua menjawab.
Ternyata yang menunggu adalah Iwan dan Asep. mereka memelum Komeng bergantian.
"Sudah lama di sini ?
"Belum Meng" sahut iwan.
"Iya, kami nunggu di sini soalnya kita ga bakalan bisa kesana kayaknya" Asep menyambung.
"Memang kenapa ?" Komeng bertanya terheran-heran.

"Maaf den ikut lewat ..", seorang yang perawakannya tua lewat, dengan beberapa orang lainnya. terlihat mereka membawa beberapa bungkusan plastik dan tikar.
"Silahkan pak" Iwan menjawab.

"Jadi ramai ya sekitar sini" Komeng bertanya.
"Semenjak kita pergi, banyak orang datang kesini", jawab iwan.
"bukan itu saja, malah mereka menghalangi jalan ke rumah pohon kita Meng" tambah Asep.
"Wah bagaimana bisa begitu ?"
"Iya semenjak adanya togel, orang semakin banyak yang berkunjung ke rumah pohon kita."
"Lebih tepatnya, meminta wangsit disana!" tambah Asep.
"Duh, Kenapa jadi begini ?" Komeng menepak kepala.
"Yuk kita lihat kalau kamu tidak percaya", Iwan menarik tangan komeng.

Berbeda dengan orang yang datang, Komeng, Iwan dan Asep jalan memutar menyusuri sungai dan berbelok ke kiri. mereka memasuki hutan kecil. di sana mereka dapat melihat dengan jelas keadaan sekitar. bukan hanya kakek-kakek, orang paruh baya dan anak muda pun ada di sana. dan ada beberapa ibu-ibu yang ikut juga mengitari pohon besar.

Pohon rindang sepintas aneh. pohon dengan dahan rindang, dahan dahannya menyebar jauh dengan daun kecil. tapi ada juga daun yang bergerombol di tengah dengan akar-akar yang menggantung. Komeng Iwan dan Asep sudah tahu, kalau pohon itu terdiri dari dua pohon yang terikat
 bersama di kala masih kecil. itu adalah pohon trembesi dengan pohon beringin. mereka menjadikan pohon itu markas tempat
 tinggal di kala pulang sekolah dan mengerjakan apa saja di sana.

"Wah tidak betul ini, tempat kita jadi seperti warung kopi begini, ramai". gerutu Komeng
"Iya Meng" Asep menimpali.
"Bagaimana kita masuk?" Iwan menyambung lagi
"Sepertinya kita tangguhkan besok pagi, kalau orang-orang ini sudah pergi".
"Ya Sepertinya memang harus begitu".
"Ayo kita pulang'. Kembali komeng berkata dengan nada rendah.
"Ayo mungkin besok orang sudah cape mengepung tempat ini". Iwan berkata
"Iya ayo kita lanjutkan besok."

Lalu mereka bertiga melangkah mundur dan memutar tubuh menjauhi tempat tersebut. besok petualangan ketiganya akan di mulai.


No comments: