Tuesday, January 15, 2013

Perjodohan dan Status Pacar

"Hi"
"Hi juga ...." Jawab Didi menimpali.
"Sudah lama menunggu ?" Irma memulai pembicaraan.
"Tidak juga .. "
"O.. baru saja ya " Irma tersenyum sambil berkata dalam hati "Bukanya udah lama sekali ya". Irma kebetulan pas tadi mau pulang di mintai berkas tugas kemarin oleh temannya yang tidak masuk dan kebetulan walau jauh dapat memperhatikan Didi yang sudah ada di Halte.
"Iya"
 "Tuh ada angkot, yuk pulang."
Didi mengekor saja tanpa banyak kata, walau sebenarnya ada banyak kata yang ingin terlontar. tapi setiap kalai ingin berkata jantungnya merasa bergetar.

Sorenya Didi duduk di teras rumah,  duduk di salah satu empat kursi yang mengitari sebuat meja bundar. memandangi lampu gantung yang belum di nyalakan, walaupun sudah menjelang magrib.
"PLAKK"
"Aduh" Didi meringis, pipinya terasa memar.
"Maaf  Diden ada nyamuk" orang di depannya memperlihatkan tangan yang memang ada noda merah.
"haduh Asep ... kamu itu ngagetin orang saja, dan itu manggil namaku di ganti-ganti segala !".
"Hehe"
"Cengengesan lagi, bukannya datang itu salam dulu, ini malah ngagetin orang".
"Tadinya .."
Diden melotot "Tadinya apa ?"
"Iya tadinya  mau salam, tapi kok liat orangnya kayak yang linglung. aku peolotin diam saja, eh liat nyamuk, jadi tergoda, ya langsung di pukul saja " Sambil mesem-mesem Asep berkata.
"Iya tapi lain kali manggil aku Didi saja".
"Tapi kan lebih keren Diden ?
"Didi juga Keren .!!
"Ya sudah biar keren panggil komplit saja ya, Raden Didi" sambil nyengir Asep berkata.
"Nih bogemku, mau ?"
"Eit, eit jangan dong, makanya diden saja, sudah lengkap, Raden nya ada, Didi nya ada, lebih keren lagi " sambil mengacungkan dua jari telunjuk dan jari tengah.
"SEKAREPMU !!"
"Ha ha ha , gitu dong" Asep berkata sambil menyambar leher Didi dengan tangan kirinya,
"Iya udah sana, nanti kita di sangka pacaran lagi"
"Iya, iaya, biar kamu ganteng, aku juga masih waras kok". kemudian asep mengambil tempat duduk di depan Didi.

Diden emang panggilan buat Didi yang di ciptakan asep waktu SMP. teman-nya cuma ikut ikutan, tanpa tahu apa artinya, memang di sekolah atau tanda pengenal, tidak bisa di hapus hurup R. besar yang ada di depan namanya. Setelah Asep lama sekolah ke luar kota, nama Diden jarang terdengar kecuali dari teman-temanya sewaktu SMP dulu.

Beberapa detik tanpa ada percakapan, kemudian Didi bertanya.
"Ada apa Sep kamu ke sini ?".
"Lha kan ini malam Minggu ?".
"Iya terus ada apa ?
"Bu Raden ada ? " tanya Asep sambil nyengir.
"Ini lagi ada-ada saja !" sambil mengacungkan kepalan tangannya.
"hehehehe, maaf becanda, soalnya dari tadi kamu banyak melamun"
"Iya emangnya kalau ini malam minggu, terus kamu ada perlu apa sama Ibuku ?
"Lha kok belum ngerti juga ?"
"Ngerti apa sih ?"
"Aku ini tiap hari minggu libur jaga toko, nih kuncinya". Sambil menyimpan kunci di meja
"Hehehe Ibu lagi keluar kota". Teringat sesuatu, Didi sekarang yang cengengesan.
Melihat senyum yang mencurigakan Asep kemudian siap-siap ambil langkah dan hendak bangun. " Ya sudah kan sudah biasa kalau Ibu ga ada kamu yang jaga"
"Eit tunggu dulu".
"Apa lagi ?". Asep menimpali.
"Kamu saja yang jaga ya ?".
"Ga mau !"
"Haduh... " sambil berdiri dan berjalan ke samping kursi, tubuhnya di putar sambil menepak nepak kepalanya. tidak sadar Asep sudah pergi meninggalkan kursinya dan tiba tiba Didi mendengar suara.
"Aku pergi ya .. Assalamualaikum"
"hei tunggu ...!" sambil mengejar
Tapi Asep yang menggunakan sepeda, tidak bisa terkejar oleh Didi yang cuma berlari. dengan suara yang lemas karena cape dan putus asa tidak bisa mengejar, keluar suaranya "Walaikum.. salam ......"

Jam sembilan, Duduk di kursi panjang yang sengaja di keluarkan dari toko. di sebelah Asep ada Kopi dan juga beberapa bungkus kacang. Bagi orang lain ada yang kurang untuk orang seumuran Asep. "Ada kopi, ada kacang, Rokoknya mana ? kayak banci saja" mungkin itu yang terbersit di pikiran kebanyakan orang. tapi Asep suka berkata "Banci itu rata-rata merokok" saya malah ga mirip.

"Eit itu kurang bersih., sapu lagi yang betul !!" dengan nada memerintah yang sangat kentara.
"Iya boss"
Ternyata yang menyapu adalah Didi. Asep sudah tidak berniat buka toko, tapi pas tadi kebetulan lewat toko masih tutup. Terburu-buru Asep ke rumah Didi dan Didi seperti kemarin masih duduk di bangku di depan rumah. Setelah beberapa waktu berbicara, maka Didi tetap jaga toko, tapi di temani Asep. dan Asep menekankan, Hanya sebagai teman saja, tidak ikutan jaga, dan juga bersih-bersih.

"Lha kopiku mana ?". Didi berkata.
"kamu sih beres-beres sama nyapunya kelamaan, jadi aku keburu haus". sambil meneguk sisa air kopi yang terakhir.
"Duh, bawa orang malah bikin tekor".
"Ya sudah aku pulang".
 "Eit jangan".
"Ya sudah sana pesen lagi, nanti kamu yang bayari. aku teh manis saja. udah mual dari tadi ngopi"
"Enak di mulutmu ga enak di kantongku !!" sambil meninggalkan Asep ke arah warung.


"Hari minggu begini sepi, biasanya juga jarang yang beli." Didi membuka pembicaraan sehabis dari warung.
"Nah tau sendiri, makanya, tadinya aku usul sama ibu kamu itu hari minggu tutup saja, tapi bagus, biar kamu ada kerjaan kalau ibumu ga ada. hehehe".
"Iya tapi kalau sepi seperti ini, kerjaku pasti ngelamun seharian".

"Di temeni juga kamu tuh banyak ngelamun.  ada apa toh ?".
Didi terdiam, tanpa bahasa. Asep yang di sampingnya cuma diam.
"Kamu udah punya pacar sep ?".
"Hmm...".
"Kok hem?".
"Kata yang simple tapi susah di mengerti"
"Susah bagaimana ?".
"Nah sekarang aku balik tanya, apa artinya pacar ?"
"Hmm. orang yang kamu suka ?". jawab Didi seperti bertanya.
"Jadi kita pacaran dong, whahahahaha"
"Lawan jenis.. katrooOO !!!!"
"Hahahaha" Asep tertawa lepas
"Serius ini.."
"Aku juga serius, malah aku ga tau arti sebernya pacaran itu apa ? kalau persiapan untuk menikah, kenapa banyak yang putus di tengah jalan, malah yang ekstreem ada yang gunta ganti pacar tiap minggu. Emang kamu siap untuk menikah ?
"Belum lah " dengan lemas didi menjawab.
"Nah, sekarang malah aku tambah bingung ini".
Hening sejenak....

"Siapa Ceweknya Di ?". Asep mulai membuka percakapan.
"Irma"
"Ohh".
"Oh apa ?".
"Dia kan tetanggaku".
"Ya kalau itu aku juga tahu".
"Lamar saja Di"
"Belum berani aku. biaya sekolah saja masih dari Ibu"
"Kalau begitu matilah kau, hahahaha"
"Memang kenapa ?".
"Kata temanku sih dia seperti gunung es,  kalau berkata pun seperlunya, banyak yang mati kutu sama dia."
"Begitu ya ?"
"Eh tapi kenapa, dia bisa jalan pulang pergi sekolah sama kamu ?. Ada tanda tanya besar di kepala Asep.
"Ibuku, dia bilang suruh pergi sama-sama, Itu juga permintaan Ibunya Irma"
"Gitu ya ,". Asep menepak-nepak hidung dengan telunjuknya.
"Sep kamu itu mikir apa ngupil sih ?!".
"kalau di jidat itu, kalau belum ketuhuan lobangnya, ini udah kentara kok lobang nya ". Sambil cengengesan.
"lobangnya gimana ?"
"Sekarang aku tanya, kamu masih butuh status pacaran itu ?"
"Butuh ga butuh sih. aku bukan orang yang suka keluyuran kemana-mana".
"Udah gitu ga tentu jadi istri kan?"
"Iya juga sih, cuma ikatan ga resmi"
"Kamu itu sudah di jodohin sama Irma".  dengan suara pelan tapi pasti.
"Masa ?" Didi menimpali
"Cuma tebakanku sih... "
"Zaman sekarang mana ada perjodohan Sep, kamu itu ada-ada saja"
"Nama kamu juga aneh, jaman sekarang kok bisa-bisanya pake Raden"
"Raden itu kan udah bawaan, itu sudah lama dan sudah turun temurun di keluargaku".
Dengan enteng sambil masuk ke toko Asep berkata "Perjodohan malah lebih tua dari gelar Raden"

Sambil mengintip di balik barnag dagangan di etalase,  memperhatikan tingkah didi yang banyak merenung, kadang cengengesan sendiri, lama-lama bulu kuduk Asep merinding juga memperhatikan Didi. Tak lama Didi beranjak dari duduknya dan bergerak menuju ke dalam toko dan memanggil-manggil Asep. Selanjutnya babak kedua percakapan antara dua sahabat di lanjutkan, entah apa yang di bicarakan.

Senin yang di tunggu, Didi bergegas menuju Halte dimana ia biasa berangkat. tempatnya malah menjauhi tujuan tapi di dekat rumah Irma. Hari langkah Didi tambah tegap dan berirama, tidak seperti kemarin yang loyo. di depan sana terlihat Irma sedang menunggu dan sudah ada Angkot di depannya. "Celaka Bisa-bisa dia pergi duluan" hati Didiberkata.

Ternyata Irma masih saja berdiri di sana waktu angkot melaju pergi. Didi dengan tergesa-gesa menghampiri.
"Sudah lama menunggu ?".
"Siapa yang nunggu ?" Jawab Irma.
"Nah tadi angkot nya pergi ga ikut ?"
"Penuh"
"Owh ... kirain" Didi cengengesan.
"Tuh ada yang kosong, ayo!"
"Yuk"

Mereka berdua pergi mengawali hari senin yang sudah tidak biasa lagi sekarang bagi Didi. angkot yang kosong tadi menyalip angkot yang di depannya yang ternyata juga hanya ada beberapa orang  penumpangnya, itu membuat Didi berbunga-bunga. Irma hanya diam, seakan topik hari ini jadi buntu.








No comments: