"Ada korek ?"
"Nih" Arman menyungutkan mulutnya yang mengggigit korek.
"Duh jangan yang itu, jijik akua melihatnya". Sahut wandi sambil
agak menjauh.
"Ini juga kan korek". Arman mengambil batang korek yang di ambil
dari mulutmya.
"Ya, tapi itu sudah bau ilermu !"
Arman hanya membalas dengan seringai kecil dan membuangnya. dan
mengambil sekotak korek dari saku celananya.
"Kenapa sih kau suka sekali menggigit korek ?" Wandi bertanya.
"Hmmm gaya mungkin ?, kan kelihatan agak macho". Arman tersenyum
kecil.
"Ambilah sebuah rokok nih. lalu bakar, itu akan kelihatan macho"
Sambil menyodorkan sebungkus rokok berbungkus putih.
"Entahlah aku sama sekali tidak tertarik"
"Lha daripada sebatang korek tak ada rasanya ?"
"Ada rasanya ! batang korek ini sudah di rendam minyak tanah dan
kata orangtuaku minyak tanah itu bisa menyembuhkan sakit perut, lagi
pula perutku terasa mual-mual belakangan ini"
"Ha itu pasti sudah waktunya"
"Waktunya apa ?" Arman bertanya dengan nada serius.
Wandi tersenyum simpul seperti menahan tawa.
"Apa .. ?" Arman makin bertanya-tanya.
"Waktunya kau datang bulan, Hahahaha " Wandi langsung saja berlari.
"Sontoloyo emangnya aku ini apa". Arman langsung saja mengejar.
Wandi mempercepat larinya dan di kejar terus oleh Arman.
Ratusan meter, mereka berkejar-kejaran. hingga akhirnya Wandi
berhenti, terlihat dia menekuk tubuhnya dan terengah-engah. Arman
yang menyusulnya dari belakang langsung menendang pinggul wandi yang
sedang tertekuk rukuk, kontan Wandi terjatuh, tapi bisa menahan
tubuhnya dan jatuh terduduk.
"Udah-udah stop aku capek" Wandi mengankat kedua tangannya.
"Udahan saja nih?"
"Ya sudah, napasku tak kuat lagi". Sambil tersengal-sengal Wandi
menjawab.
"Ya itu kan napas rokokmu, kau bisa lari kencang, tapi tak akan
bertahan ratusan meter.". Jawab Arman sambil ikut duduk melonjor di
sebelah Wandi.
"Masa sih ?"
"Ya kalau tak percaya kita balapan lari lagi".
"Ogah, capek"
"Ya terserah"
Wandi dan arman meruskan duduk-duduk mereka di pinggir jalan.
Sementara Wandi merasakan lelah dan mengatur napasnya, wandi
melihat-lihat sekeliling. memperhatikan rumah rumah dan keadaan
jalan. dan terkadang memperhatikan lalu lalang jalan raya. terlihat
ada yang menarik perhatiannya.
"Lihat apa sih ?"
"Tampaknya akan ada hajatan besar nih". Arman menjawab.
"Hajatan apa ?".
"Tuh spanduk memenuhi jalan. gede-gede lagi!"
"Owh itu, para calon pejabat kita". sambil menunjuk deretan spanduk
di pinggir jalan.
"Kumuh jalan kita sekarang, banyak spanduk tak beraturan !".
"Yah namanya juga cari perhatian". Jawab Wandi.
"Nah kalau yang itu ?". Arman menunjuk spanduk yang agak jauh.
"Owh itu Pejabat lama".
"Bukannya orangnya sama dengan yang ini ? mencalonkan lagi dia ?"
"Ya kayaknya begitu".
"Wah ga bener ini .. ".
"Gak bener apanya ?". Wandi penuh tanda tanya.
"Ya Gak bener, masa jadi kayak iklan gratisan kayak gitu".
"Gratisan gimana cuy ?".
"Itu pejabat lama yang katanya mencalonkan lagi, kok pasang spanduk
lain lagi"
"Kalau yang sana itu iklan layanan masyarakat, nah kalau yang ini
itu iklan pencalonan". Wandi menjawab dengan nada tegas.
"Tetap saja terlihat seperti iklan gratisan buatku".
"Iklan gratisan gimana Man"
"Ya iklan gratisan, Pas masa-masanya kampanye kok malah pasang
spanduk layanan masyarakat, pake photo dia lagi !".
"Ya namanya Iklan layanan masyarakat, ga ada waktu. pas di perlukan
ya bikin". Wandi menjawab.
"Kalau tahun kemarin ada enggak?".
Agak lama Wandi berpikir. "Enggak ada kayaknya !"
"Nah lho" Arman langsung menyambung.
Agak lama wandi tertegun, dia tidak memperhatikan kalau Arman
memperhatikan obyek yang lain.
"Wan .. wan.. kalu yang itu ?" Arman menunjuk.
Bersambung ....
No comments:
Post a Comment