Agak lama wandi tertegun, dia tidak memperhatikan kalau Arman
memperhatikan obyek yang lain.
"Wan .. wan.. kalu yang itu ?" Arman menunjuk.
"Yang mana ?"
"Yang itu" Arman menunjuk lagi.
"Disana kosong gak ada spanduk" Wandi menjawab. Pertanyaan Arman yang terakhir masih mengusik hatinya.
"Siapa bilang spanduk. Itu !!"
"Yang sedang jalan Man ?".
"Iya itu!"
"Anak cewek itu ?"
Arman melotot kepada Wandi "Iya dodol, apa ada orang lagi di sana ?".
"Nih hidung mu yang dodol". Sambil memencet hidung Arman. "Lalu kau kemanakan Desy ?" sambung Wandi kembali.
"Emangnya ada apa dengan Desy ?"
"Bukannya kau dulu mengejar-ngejar dia ? Tanya Wandi.
"Ya.. "
"Nah terus ?".
"Ya terusnya males".
"Males gimana ?".
"Ya Males, pertama kelihatannya kayak yang baik".
"Terus kenapa ?".
"Ya sudah kenal sekarang malah dia suka ngajak main ke mana-mana".
"Lha kan bagus, berarti pendekatan berhasil kan ?"
"Ya, tapi tetep saja malah aku yang gerah".
"Gerah kenapa ?"
"Masak anak cewek suka minta jalan-jalan malem sih ?"
"Nah emangnya harus gimana ? pacaran itu begitu kan ?"
"Pacaran ?. Meaningless ..."
"Apa ?"
"Pacaran itu kata yang tidak ada artinya malh banyak salahnya !!"
"Lah terus kamu deketin dia itu buat apa ?"
"Ya buat kenal lah, sudah kenal ya terus di tindaklanjuti".
"Terus kenapa, kok malah kayak yang mau ninggalin Desy sih ?"
"Ya itu tindak lanjut nya. DI LUPAKAN !!"
"Ayo". Arman menarik tangan Wandi ke arah jalan Raya.
"Hey kemana ?" Wandi yang di tarik melihat kiri kanan, karena tidak memperhatikan jalan awalnya.
"Ayo nyebarang, nanti keburu ada yang lewat, tak mau mati muda kan kau ?!".
"Kemana hey ?". Wandi terpaksa mengekor karena tangannya di tarik.
"Ikuti cewek itu". Sambil menunjuk.
"Serius nih Man ?
"Emangnya kenapa ?"
"Janganlah, kayaknya itu anak baik-baik".
"Anak baik-baik apa maksudmu ? Apa kita bukan anak baik ?".
"Maksudku, dia itu pendidikan dan keluarga dari golongan baik-baik Man. lihat saja pakaiannya. jarang ada yang pake kerudung ngepas gitu !"
"Ngepas gimana ?"
"Ya Ngepas, kelihatan kalau orang yang tak biasa pakai kerudung atau kerudungnya hanya sebagai model, kayak yang gimana gitu ?!".
"Ya berarti bagus kan ?"
"Bagus gimana lagi, kadang-kadang aku keder sama pemikiran kamu itu !".
"Ya bagus, mudah-mudahan cocok, kan bisa memperbaiki keturunan." Arman tersenyum.
"Wah Man, biasanya nih, kalau yang kayak gitu bapaknya galak minta ampun Man,"
"Gitu ya ?".
"Iya Man !"
"Belum juga tahu dan di coba malah bikin masukan kagak bener !! Ayo cepet nanti ketinggalan !!". Sambil narik tangan Wandi lebih kencang.
"Lepas dong jangan di tarik-tarik, sakit nih". Wandi berusaha melepaskan tangan dari genggaman Arman yang setengah berlari.
"Wan .. wan.. kalu yang itu ?" Arman menunjuk.
"Yang mana ?"
"Yang itu" Arman menunjuk lagi.
"Disana kosong gak ada spanduk" Wandi menjawab. Pertanyaan Arman yang terakhir masih mengusik hatinya.
"Siapa bilang spanduk. Itu !!"
"Yang sedang jalan Man ?".
"Iya itu!"
"Anak cewek itu ?"
Arman melotot kepada Wandi "Iya dodol, apa ada orang lagi di sana ?".
"Nih hidung mu yang dodol". Sambil memencet hidung Arman. "Lalu kau kemanakan Desy ?" sambung Wandi kembali.
"Emangnya ada apa dengan Desy ?"
"Bukannya kau dulu mengejar-ngejar dia ? Tanya Wandi.
"Ya.. "
"Nah terus ?".
"Ya terusnya males".
"Males gimana ?".
"Ya Males, pertama kelihatannya kayak yang baik".
"Terus kenapa ?".
"Ya sudah kenal sekarang malah dia suka ngajak main ke mana-mana".
"Lha kan bagus, berarti pendekatan berhasil kan ?"
"Ya, tapi tetep saja malah aku yang gerah".
"Gerah kenapa ?"
"Masak anak cewek suka minta jalan-jalan malem sih ?"
"Nah emangnya harus gimana ? pacaran itu begitu kan ?"
"Pacaran ?. Meaningless ..."
"Apa ?"
"Pacaran itu kata yang tidak ada artinya malh banyak salahnya !!"
"Lah terus kamu deketin dia itu buat apa ?"
"Ya buat kenal lah, sudah kenal ya terus di tindaklanjuti".
"Terus kenapa, kok malah kayak yang mau ninggalin Desy sih ?"
"Ya itu tindak lanjut nya. DI LUPAKAN !!"
"Ayo". Arman menarik tangan Wandi ke arah jalan Raya.
"Hey kemana ?" Wandi yang di tarik melihat kiri kanan, karena tidak memperhatikan jalan awalnya.
"Ayo nyebarang, nanti keburu ada yang lewat, tak mau mati muda kan kau ?!".
"Kemana hey ?". Wandi terpaksa mengekor karena tangannya di tarik.
"Ikuti cewek itu". Sambil menunjuk.
"Serius nih Man ?
"Emangnya kenapa ?"
"Janganlah, kayaknya itu anak baik-baik".
"Anak baik-baik apa maksudmu ? Apa kita bukan anak baik ?".
"Maksudku, dia itu pendidikan dan keluarga dari golongan baik-baik Man. lihat saja pakaiannya. jarang ada yang pake kerudung ngepas gitu !"
"Ngepas gimana ?"
"Ya Ngepas, kelihatan kalau orang yang tak biasa pakai kerudung atau kerudungnya hanya sebagai model, kayak yang gimana gitu ?!".
"Ya berarti bagus kan ?"
"Bagus gimana lagi, kadang-kadang aku keder sama pemikiran kamu itu !".
"Ya bagus, mudah-mudahan cocok, kan bisa memperbaiki keturunan." Arman tersenyum.
"Wah Man, biasanya nih, kalau yang kayak gitu bapaknya galak minta ampun Man,"
"Gitu ya ?".
"Iya Man !"
"Belum juga tahu dan di coba malah bikin masukan kagak bener !! Ayo cepet nanti ketinggalan !!". Sambil narik tangan Wandi lebih kencang.
"Lepas dong jangan di tarik-tarik, sakit nih". Wandi berusaha melepaskan tangan dari genggaman Arman yang setengah berlari.
****************
"Baru pulang ?".
"Iya Ayah".
"Lain kali kalau keluar, ajak teman !"
"Maaf Ayah, ada keperluan mendesak ..".
"Ya lain kali jangan di ulangi !
"Ya Ayah, masuk dulu ya ?"
"Ya sana ."
Kemudian setelah di tinggal pergi, pria yang di sebut Ayah itu duduk dan memperhatikan ke depan. Ia pura pura tidak tahu kalau di sana ada dua orang yang memperhatikan ke rumahnya. sambil duduk dan meminum segelas kopi yang berada di dalam gelas. Ia perhatikan kemudian dua orang itu beranjak pergi.
"Hmmm dalam hatinya berkata"
No comments:
Post a Comment