<----- Sebelumnya
"Man ada Wandi nih .."
"Suruh masuk aja bu, Arman lagi tangggung." Jawab Arman pada ibunya.
"Tuh nak Wandi masuk saja" Ibu Arman berkata.
"Iya Bu makasih"
"Langsung saja ke kamar !"
"Iya Bu, Permisi"
"Ya silahkan, Ibu ke dapur lagi ya, masih banyak kerjaan"
"Iya Bu, dan jangan ngerepotin, kalau ada keluarin saja semua Bu ".
Jawab Wandi sambil cengengesan.
"Kamu itu bisa saja , tapi kebetulan Gas habis, Arman belum beliin
tuh".
"Wah, rupanya saya kurang beruntung kali ini".
Ibu arman hanya bisa tersenyum dan pergi ke balik pintu menuju
dapur. Wandi meneruskan langkah ke ruang tamu dan meneruskan ke
sebuah kamar sebelahnya. sudah terbiasa Wandi di rumah ini, kadang
seperti rumah kedua baginya.
"Wah Man rapih bener ?"
"Sudah cakep kan ?" Tanya Arman sambil bergaya di depan cermin.
"Untung aku tak mandi hari ini, jadi kau lebih cakep lah"
Arman melirik pada Wandi "Jadi kau tak mandi hari ini?".
"Iya Man, brrr Dingin...". jawab Wandi sambil menggigil.
"Ya tapi setidaknya cuci muka dan lap iler keringmu itu !!"
"Masa sih ?" sambil bergerak ke cermin yang sedang di pakai Arman
bergaya
"Eit.. sana ...!! Kau merusak pemandangan saja !!".
"Bentar lah..." Jawab Wandi sambil memperhatikan mukanya di cermin.
"Udah sana kau pulang dan mandi, nanti balik lagi ke sini !"
"Emang mau kemana kita ?"
"Pokonya kamu sana pulang dan mandi, atau ah nanti keburu siang. Ayo
sini kamu mandi sini saja!!" sambil mengambil handuk dan langsung
menarik tangan Wandi.
"Hey Man,!! dingin...!!"
"Pokonya kamu harus mandi!!" , Sambil terus menarik tangan Wandi
"Haduh.. eh Bu maaf ya ikut ke kamar mandi" ketika tangannya di
tarik dan berpapasan dengan Ibunya Arman.
"Iya sana, kirain ibu tadi itu bau apa ya ?". Jawab Ibu Arman pada
Wandi.
Wandi pun segera masuk kamar mandi, sementara menunggu Arman membeli
gas 3kg dari warung sebelah rumah dan memasangkannya. Setelah Wandi
beres mandi dan rapih memakai baju yang di pinjamkan Arman, mereka
pun pamit pada Ibu Arman.
"Sebenarnya kita ini mau kemana sih ?" Wandi berkata penuh tanda
tanya.
"Ke rumah cewek yang kemarin". Jawab Arman sambil terus malangkahkan
kaki.
"Kamu udah tahu namanya ?".
"Belum". Jawab Arman datar.
"Nah terus gimana kita ke sana ? kalau tak tahu namanya ?".
"Ya kan kita kesana mau kenalan ? bukan begitu ?"
"Emang bener, tapi kok kayak ada yang salah ya ?"
"Salah apanya ?".
"Bukannya harus kenal dulu baru bertamu ?".
"Masa sih ?".
"Iya.. Atau gimana ya ?"
Arman menjawab. "Gimana mau kenal, orang kita lihat juga di jalan
kau ini !"
"Gimana sih ini ya ?" Wandi garuk-garuk kepala.
"Otak mu musti di cas kayakanya, banyak ga nyambung !!". Jawab Arman
sambil terus berjalan dan sesekali berbincang.
Wandi terus mengikuti dan kadang berlari kecil menyusul Arman.
******
"Assalamulaikum ". Arman mengucapkan salam di depan sebuah
rumah.
"Ga ada orang mungkin man , ayo kita pulang.".
"Baru juga dua kali, nanti sekali lagi !".
"Kalau ga ada juga kita pulang ya ?".
"Kalau ga ada juga berarti giliran kamu yang salam !!"
"Kok aku sih ?". Sambil membayangkan ngerinya, kalau yang membuka
pintu adalah orang yang sangar mukanya.
"Ya emangnya kenapa ?".
"Haduh... nyesel aku ikut.." Sambil bergidik, terasa kuduknya
merinding.
"Kamu ini penakut sekali !. bentar aku salam lagi.". Lalu Arman
menyambung dengan salam lagi "Assalamualikum !!"
"Wa-Alaikum salam". tiba tiba ada jawabn dari dalam dan pintu
terbuka. seorang laki-laki tegap. di pinggangnya terselip sebuah
golok. kemudian menghampiri Arman dan Wandi.
"Ada Keperluan dengan siapa ya ?
Wandi yang memang sudah gemetaran dan melihat golok, makin ciut
hatinya. Arman yang tadinya berani juga sekarang ikut terbawa
suasana. Agak gagap dan memang bingung mau bertemu siapa ya ? oh dia
ingat mungkin pakai panggilan umum saja mungkin.
"Neng nya ada pak ?" tanya Arman.
"Ini sama siapa ya ? tanya nya.
"Saya Arman Pak dan ini Wandi."
"Owh nak Arman sama Wandi. Saya Kosasih Bapnya Neng." sambil
menjulurkan tangan.
Melihat yang punya rumah yang ramah, Arman kembali datang
keberanianya. segera menjulurkan tangan dan berjabatan. kemudian
beralih ke wandi.
"Neng ini ada tamu". Pak Kosasih berkata agak keras dan memalingkan
muka ke arah rumah.
"Ya pak .!" suara dari dalam terdengar. Arman lumayan deg-degan,
berbeda dengan Wandi yang malah sekarang tenang.
Dari dalam keluar sesosok wanita rapih, Arman semakin deg-degan,
begitu pun Wandi, tapi wandi yang merasa tak punya niat kini lebih
berani, sekilas melihat ke wajahnya. dan terkejut.
"Man. !" wadi menyikut Arman yang masih tak karuan.
"Apa ?" pikirannya Arman buyar dan menengok ke arah Wandi.
"Apa kita ga salah rumah ?" tanya Wandi.
"Emang kenapa ? " tanya Arman kembali. amsih melirik ke arah Wandi
dan belum memperhatikan ke depan.
"Lihat, kayaknya bukan yang waktu itu !!" sambil memalingkan muka
Arman ke arah di mana wanita tersebut berdiri.
Arman terkejut ketika melihat, yang ia lihat memang bukan ini. tapi
tak mungkin salah rumah. ia dengan jelas melihat kalau wanita yang
kemarin masuk ke rumah ini.
"Neng ini ada tamu". Kembali pak kosasih berkata.
"Siapa ya ?" Neng bertanya.
Arman gelagapan. polos dia menjawab "Kayaknya salah pak, maap"
"Salah apa ? ". tanya pak Kosasih.
"Kemarin saya ketemu dengan seseorang yang kemudian masuk ke sini,
saya kira anak Bapa." jawab Arman langsung pada persoalan.
Pak kosasih berpikir. hmm dia ingat sesuatu. "Owh ya, saya ingat.
Neng tolong panggilkan Sukma ke sini. sekalian bawakan air."
"Iya Pak" Kemudian Neng pergi ke dalam dan terdengar suara cekikikan
dari dalam.
"Sukma itu anak kedua Bapak, itu tadi kakaknya" Pak Kosasih
menjelaskan.
Arman dan wandi terangguk-angguk. kemudian Pak Kosasih kembali
melanjutkan "Anak ini kan yang kemarin ya ?"
Arman dan Wandi terkejut. mereka kira kedatangannya kemarin
mengikuti tak di ketahui orang.
"Mengapa tidak langsung kesini ? " tanya Pak Kosasih kemudian.
"Maaf pak, kemarin kami malu" jawab Arman
"Jadi sekarang tidak malu ?"
"Bukan begitu pak, kemarin merasa sungkan dan hari ini juga sama,
tapi di paksakan." jawab Arman.
Seorang gadis keluar dari dalam rumah membawa air. terlihat manis di
balut pakaian rapi menutup tubuh. Arman melihat sekilas dan terasa
dadanya bergetar.
"Sukma, ini Nak Arman dan nak Wandi, sengaja ke sini untuk
berkenalan !"
Sukma memberi salam dengan merapatkan tangan dan membungkuk.
Arman berdiri dan melakukan yang sama "Saya Arman".
"Dan Saya Wandi" Wandi langsung menyambung.
"Nak Arman dan Wandi, Sukma baru pulang sekolah dari luar kota.
menyelesaikan sekolahnya". jelas pak kosasih.
"Baru keluar pak, bukannya ini akhir tahun ?". Tanya Arman.
"Ya, jadwal pengajaranya memang tidak mengikuti keumuman, ini
kurikulum khusus yang dengan kekhususan iyu malah bapak tertarik,
mungkin malah bisa mendidik lebih".
"Oh begitu ya pak"
"Nak Arman masih sekolah ?".
"Tidak Pak, tidak ada modal untuk meneruskan, kadang kerja serabutan
sama Wandi".
"Kerja itu apa saja, asal Halal".
"Tapi bapak juga tidak bisa menemani lama-lama, Bapak mau ke
belakang, biasa ke kebun, bersih-bersih.
"Owh kami juga segera pulang. nanti kami kesini lagi berkunjung".
Armnad langsung berdiri.
"Boleh, silahkan, nanti kita ngobrol lagi".
Armand dan Wandi kemudian pamitan pada Pak Kosasih dan Sukma. dengan
penuh keyakinan Armand melangkah. meninggalkan Wandi yang melangkah
di belakangnya.
**********
Beberapa kali Arman berkunjung tanpa di sertai Wandi. kedatanggannya
di sambut ramah oleh Pak Kosasih dan setiap bertemu Sukma selalu
mendapat sambutan ramah. hatinya berbunga-bunga. sampai pada suatau
saat ketika berkunjung yang membuka pintu adalah Sukma. Wandi
terheran-heran. ada apa gerangan.
"Bapak kemana ?" Arman bertanya kepada Sukma. sambil masih berdiri
di luar pagar.
"Bapak sedang ada keperluan" jawab Sukma.
"Owh. lama sepertinya ?"
"Mungkin." jawab sukma pendek.
"Sebenarnya Kakak ada perlu sama Bapak".
"Ada perlu apa ?". tanya sukma penuh tanda tanya.
"Sebenarnya ini ada sangkutannya dengan kamu" Armand memperhatikan
raut muka Sukma.
"Emangnya ada apa ? " Sukma gelisah dan berjalan ke samping.
Arman kemudian mengikuti di balik pagar. "ini mengenai harapan kakak
terhadap kamu"
Sukma terdiam. tidak berkata. Sedang arman penasaran dengan
pertanyaannya. apakah kurang jelas.
"Apakah kamu mau menerikma kakak jika waktunya tiba ?"
Sukma semakin pucat tidak bersuara. Arman yang menunggu jawaban
bingung di buatnya.
"Apakah jawabannya ?".
"Apakah kakak tidak salah ?". jawab sukma pelan.
dengan sigap arman menjawab "Kakak yakin tidak salah."
Sukma terdiam lagi, sangat lama. Arman menunggu dengan tidak sabar.
selain itu, Ia mersa tak enak hati berbincang di depan rumah dengan
Sukma. merasa terlalu lama.
"Tolong, jawab ya atau tidak !"
Sukma cuma bergeser, tapi tetap saja tak bersuara. Arman merasa
jawaban yang di tunggu tak bakal keluar. Sambil mengeluarkan kotak
korek dari dalam sakunya dan mengeluarkan isinya sebatang kemudian
dia berkata " Kalau sekiranya Sukma menerima, patahkanlah dan kalau
menolak silahkan lemparkan saja".
Sukma tetap tak bergeming. Arman berpikir, inilah waktunya untuk
pulang. terlalu lama berduaan tidak enak juga rupanya, walau terpisah oleh pagar.
"Kakak pulang, sampaikan salam sama Bapak, Assalamualaikum".
"Wa-alaikum salam". jawab Sukma pelan.
Arman memutar tubuh dan melangkah pelan tanpa tenaga. tak ada
jawaban pasti yang membuatnya tak menentu. tapi tiba-tiba ada sebuah
benda putih melayang di sebelah kirinya. sebuah korek. Arman putus
asa tapi hey ketika dia lihat, koek api itu patah. Arman menoleh
kebelakangnya, disana Sukam masih berdiri sambil tersenyum dan
kemudian pergi berlari masuk ke dalam rumah. Arman bersorak
kegirangan. dan berlari. hari ini adalah hari yang bahagia baginya.
ada harapan lain selain mencari kerja yang masih tak tentu baginya.
Tamat.
No comments:
Post a Comment