Kali ini Rahma mendapatkan sebuah amplop, yang mengantarkan tidak di kenal dan tidak mau mengatakan darimana asalnya. ketika di buka.
"Astagfirullah, banyak sekali" Rahma terkejut dan menghitung isinya. semuanya ada Rp. 1.500.000. tanpa pikir panjang, segera bangkit dari duduknya, pergi dengan langkah tergesa-gesa.
"Hei Rahma mau pergi kemana ?"
Rahma menoleh dan menjawab, "Sebentar Ayah, tidak jauh kok"
"Jangan terlalu jauh dan lama, badan kamu kan sedang sakit !"
"Tidak Ayah, hanya sebentar, Assalamualaikum."
"Wa,alaikum salam".
"Astagfirullah, banyak sekali" Rahma terkejut dan menghitung isinya. semuanya ada Rp. 1.500.000. tanpa pikir panjang, segera bangkit dari duduknya, pergi dengan langkah tergesa-gesa.
"Hei Rahma mau pergi kemana ?"
Rahma menoleh dan menjawab, "Sebentar Ayah, tidak jauh kok"
"Jangan terlalu jauh dan lama, badan kamu kan sedang sakit !"
"Tidak Ayah, hanya sebentar, Assalamualaikum."
"Wa,alaikum salam".
***
"Ini aku kembalikan uang kamu."
"Uang apa, ? ", Iwan menjawab dengan nada heran.
"Kamu kan yang mengirimkan uang ini padaku ?" Rahma kembali berkata.
"Uang apa ? aku tidak mengerti." Iwan kembali memasang muka heran.
"Jangan begitu, minggu lalu kamu datang menawarkan bantuan uang dan aku menolaknya. sekarang kamu kan yang menyuruh orang mengirimkan uang ini !", Rahma mengacungkan amplop berisi uang.
"OOooo maaf, mungkin kemarin ini memamng iya, aku berniat begitu, tapi karena kamu tidak menerimanya, ya sudah aku habiskan uangnya" jawab Iwan sambil tersenyum.
"Bohong nih aku kembalikan" sambil menyimpan amplop berisi uang di teras.
"Eit... nanti dulu, itu bukan uangku." Iwan mundur dan kemudian tanpa di duga masuk ke dalam rumah dan menutup pintu dari dalam.
"Heiii... tunggu." Rahma hendak mengejar, tapi tidak di teruskan, orang yang hendak di kejar sudah hilang dari pandangan. berdiri tertegun memperhatikan uang yang ada di depannya. dengan terpaksa di ambilnya kembali Amplop yang tadi di taruhnya.
Dengan langkah yang pelan, Rahma kemudian melangkah pulang, sementara sepasang mata meperhatikan dengan tersenyum di balik jendela.
***
Terasa segar, Rahma merasakan kalau badannya agak enak, tapi biaya yang di keluarkan cukup besar dan dari hari ke hari semakin sering mengunjungi rumah sakit yang untuk cuci darah. Kebiasaan makan jajanan sembarangan membuat dirinya harus menderita penyakit yang harus di bayar mahal. sekarang ia sudah tidak ingin lagi membeli gorengan jajanan favoritnya.
"Bu, sampai kapan Rahma harus terus begini ?"
Sambil memegang tangan Rahma ibunya berkata "sampai ada yang mendonorkan ginjal untukmu, dan sangat sulit untuk mendapatkan ginjal, kalau cocok, ibu juga mau memberikan ginjal ibu buat kamu, tapi darah ibu dan juga darah bapak, berbeda. harus ada yang sama dengan kamu.
"Tapi bu, sampai kapan ? biaya nya lumayan besar bu, bisa-bisa rumah yang kita tempati juga ikut terjual"
"Ya semoga saja ada rejeki kamu" Ibu Rahma tersenyum.
"Aamiin, tapi rasanya sulit" Rahma mengalihkan pandangan ke luar jendela, menutupi matanya yang mulai berkaca-kaca.
"Ya, mudah-mudahan saja ada jalan keluarnya" ibunya kembali menjawb sambil mengelus putrinya.
Rahma sangat putus asa, sampai kapan hidupnya seperti ini. hidup tergantung dari mesin.
***
3 Mei, dan sudah tiga hari di berikan unjuk rasa para buruh, kian menjadi. di beberapa kota malah jatuh korban jiwa, pabrik dan kantor yang tidak ada unjuk rasa dari karyawannya pun ikut di liburkan.
Sudah seminggu pula Rahma tidak pergi ke rumah sakit, seharusnya 2 hari yang lalu dia pergi berobat. gaji ayahnya tertahan, karena kerusuhan yang terjadi. dan hati kecilnyapun bertanya, kemana orang yang selalu mengirim uang dalam amplop ? apakah sama nasibnya dengan bapaknya ?, memang dulu ia menolak dan ingin mengembalikannya, akan tetapi, sekarang ia sangat membutuhkan nya.
Rahma menahan tubuh lemahnya dengan cara berbaring, tapi lama-lama terasa pegal juga berbaring dan terasa tenggorokannya kering. bangkit dari tempat tidurnya rahma beranjak menuju tempat gelas dan mengambil sebuah gelas. ketika hendak memutar tubuh ke tempat air minum, tiba-tiba penglihatannya kabur dan sedikit-demi sedikit terasa gelap dan suara gelas pecah terdengar nyaring.
"Rahmaaaaaaaaaaaa" hanya itu yang Rahma dengar terakhir kali. kemudian ia tak sadarkan diri.
***
"Bu" , Rahma memegang tangan ibunya.
"Ya", ibunya terlihat tersenyum ceria.
"Dimana kita bu?" Rahma mencoba mengingat-ngingat apa yang terjadi, melihat ke sekitar, bukan ini ruangan yang biasa di pakai untuk cuci darah.
"Kamu sudah sembuh nak", kata ibunya perlahan, tapi pasti.
"Sembuh ?"
"Ya, Kemarin ada orang yang memberikan ginjalnya padamu"
"Siapa bu ?"
"Ibu juga tidak tahu, kata dokter katanya saudara kita, karena datangnya juga bersamaan"
"Ibu tidak tahu siapa yang ikut ?
"Tidak tahu, ibu tidak memperhatikan. ayahmu juga yang memangku kamu dan mencegat angkot, tidak tahu siapa yang ikut ke rumah sakit ini ketika kamu pingsan".
Rahma termenung, siapakah orang yang merelakan ginjal untuknya ?. apakah orang yang sama ?
"Bu, mungkin Ibu bisa menanyakan siapa nama orang tersebut kepada dokter !"
"Kata dokter sih namanya asep, setelah operasi, orangnya langsung minta di pindah rumah sakit".
Rahma kembali termenung... "Asep" dalam hati Rahma siapa lagi ini ? nama klasik buat daerah ini. bisa asep siapa saja di belakang nama itu. bukan nama yang paten untuk daerah sunda, hanya sebatas nama panggilan.
***
Rahma termenung, bingung dengan apa yang akan di utarakan, di depannya seorang pemuda tampan yang sudah lama menantikan jawaban dari dirinya. Rahma bingung harus berkata apa. di satu sisi, dia memang menantikan hari ini, tapi di sisi lain ada hal yang sangat mengganggunya, sangat menggganggu sekali dan bisa jadi menghantui kehidupannya.
"Jadi bagaimana ?" kembali Aris membuka pembicaraan.
Rahma hanya menganggkat kepala sejenak dan kembali termenung. dia tahu Ayah dan Ibunya yang berada di balik jendela ruang tengah juga menunggu jawaban putrinya itu. tapi ia semakin bingung. terlebih setelah ada sms kemarin " Iwan menghilang seminggu" sms yang cukup mempengaruhi dirinya. Iwan memang bukan siapa-siapa. cuma orang iseng yang suka menyapa kalau dia kebetulan menunggu angkot di depan rumahnya. hey bukannya memang ayah juga naik angkot disana ketika aku pingsan.
"Rahma .." Aris kembali berkata pendek.
Rahma agak terkejut, spontan menjawab "jangan sekarang".
Kapan, 2 minggu lagi aku harus kembali ke pekerjaan ku, kalau bisa kita bisa melangsungkan pernikahan secepatnya.
"Secepat itu ?", Rahma terkejut
"Ya, dulu kau menundanya karena masih dalam keadaan sakit sekarang kan sudah sembuh, apa lagi yang di tunggu ?"
"Justru setelah sembuh ini aku malah merasa lebih bingung"
"Apa maksudmu ?"
"Aku bukan aku yang dulu ris , diriku milik orang separuhnya"
Aris bingung, "maksudmu kamu sudah menerima pinangan orang ?"
"bukan. bukan itu"
"Lalu apa ?"
"kamu tidak akan mengerti, mungkin jawabannya tidak"
Aris kecut mendengar nya. "jadi .."
Jadi jawabannya mungkin tidak dan mungkin tidak untuk selamnya. aku tidak mau kamu menungu-nunggu keputusan yang belum tentu jawabannya.
Aris tertegun, dan rahma merasa iba melihatnya, dia memang setia menunggu sampai sekarang, tapi sekarang ada orang lain yang rela membagi hidupnya dengan dirinya. mungkin ini yang harus dia lakukan, daripada merasa mempunyai beban seumur hidup nya.
***
"Hi"
Rahma menoleh dan tersenyum, "apa ini kerjaan kamu kalau libur, menggangu orang yang menunggu angkot ?"
"Hmmm, cuma menyapa apakah itu mengganggu, mungkin besok-besok lagi aku tak akan mengganggu kamu." iwan berkta sambil kembali mengayunkan sapu lidi di balik pagar.
Rahma sebenarnya sudah sejak lama mencari kesempatan ini, kesempatan untuk membuktikan sesuatu. "tidak, tidak apa, lumayan lah daripada harus bawa pengawal dari rumah, kalau ternyata di sini juga ada yang menemani".
"Owh rupanya kamu sekarang suka di temani aku ya ?"
"Jadi kamu merasa punya kewajiban menemani aku ? tanya Rahma penuh selidik.
"Ya, ini kan di depan rumahku, jadi tidak ada salahnya kan ?", jawab Iwan
"Ya tidak salah, tapi gimana kalau nanti ada orang yang marah ?"
"Siapa yang marah, dengar-dengar kamu tidak sedang menunggu pinangan kan ?" gantian sekarang Iwan yang menyelidik
"Maksudmu"
"Kamu tidak jadi kan dengan Aris ?"
Rahma terkejut, ternyata sampai juga beritanya sampai sini. menunggu jawaban yang tak kunjung datang kembali Iwan menyambung. "Bagaimana kalau aku yang melamar ?"
Rahma terkejut, tapi memang ini yang dia nanti, rencana yang di rencanakan jauh-jauh hari dan membutuhkan keberanian yang sangat tinggi, tapi entah kenapa ada keberanian itu. sejak sembuh dari penyakit ada keberanian yang bertambah dari dalm dirinya.
Kebetulan angkot datang dan rahma bernjak pergi, beerpaling ke arah Iwan, terlihat dari jauh melambaikan tangan. Rahma bertanya dalam hati apakah benar dia akan berani melamar ? tapi setelah apa yang dia lakukan, harusnya berani.
***
Rahma bersandar di samping Iwan yang sedang tertidur. Tidak terasa seminggu sudah mereka melangsungkan pernikahan. Sambil mengelus kepala iwan rahma berkata " Ternyata memang kamu, kamu punya luka yang sama seperti punyaku". sambil memegang bekas jahitan operasi ginjal miliknya.
No comments:
Post a Comment