Tuesday, July 23, 2013

Pelarian

Hangat ... Lembab Dimana kah aku ini ? sudah berapa lama ?, kucoba menggerakan tangan ini, akh susah sekali. kucoba membuka mata, terasa perih, sedikit demi sedikit terlihat air, tanah dan ketika ku raba air di mana-mana. ku gerakan kaki pun susah seperti ada yang membanduli kedua kakiku.

Beberapa lama baru ku tahu kalau ada di petak sawah. bahuku terasa sakit sekali. kucoba bangkit dan melihat berkeliling, ada seorang petani jauh di sana. akh jangan sampai ada orang tahu ada disini, bisa berbahaya untukku dan juga mereka. Sambil menarik kakinya yang ternyata tertanam agak dalam ke lumpur ahmad mencari galengan terdekat.

Terdengar di kejauhan suara air gemiricik Ahmad melangkah mendekati suara air, "mungkin aku bisa membersihkan badan dan luka di sana. Terasa segar, pikirannya kembali mengingat-ngingat apa yang terjadi semalam.

"Dor, Dor" Sambil berlari Ahmad menambakan senjatanya, tapi orang-orang dengan rompi dan masker itu seperti tidak takut dengan senjata, mungkin karena paki rompi mereka sangat percaya diri. mereka tidak seperti sedang menghadapi musuh, lebih terlihat seperti sedang latihan saja.

Mereka belum tahu kalau aku adalah nomer satu di kamp. Dengan berguling dan berbalik menghadap ke arah orang yang mengejar ahmad mencoba kembali menembakan senjatanya. "pasti tepat" pikirnya. Beberapa kali tembakan, tetap saja tidak bisa merubuhkan orang di depannya, walau pakai rompi, seharusnya mereka takut kena kaki atau mungkin akan tetap terasa sakit, tapi sepertinya tidak ada satupun peluru yang mengenai sasaran. kaget bercampur heran bercampur dalam pikiran ahmad. tidak mungkin tidak ada yang kena satupun.

kios bensin itu, ya mungkin itu bisa menyelamatkan, dengan cepat di tembaknya kios bensin pinggir jalan.
"dor, dor dor ".
"Sial, ini senjata seperti tidak ada pelurunya". ahmad terkejut. tidak ada satupun botol yang pecah dan terbakar. botol bensin itu masih di sana tidak bergeming. sementara orang yang mengejarnya semakin dekat saja. dengan cepat di lemparkan senjata yang di peganggnya ke arah mereka dai sekuat ten berlari sekuat tenaga.

Berlari dan terus berlari, sambil sesekali menoleh ke belakang. seberapa kuatnya berlari tetap saja tidak bisa jauh dari kejaran. ahmad sudah tidak tau berada di mana, yang hanya ingin dia lakukan terus berlari dan berlari terus. bunyi dentingan benda keras beradu berkali-kali terdengar. mereka pasti memakai peredam pikirnya.

Tiba-tiba terasa pundaknya panas, di raba dan terasa ada cairan hangat mengalir deras.
"Darah"
sambil terus berlari, terlihat di samar-samar depan ada jembatan. jalan yang di lihatnya semakin lama semakin gelap. semakin gelap, tapi Ahmad tetap memacu kakinya untuk berlari hingga.
"buk" tubuhnya terbentur dan terasa tubuhnya melayang.

"Untung pelurunya tembus pikir Ahmad, sambil membasuh luka di pundaknya. darahnya sudah berhenti, tapi tetap saja masih terasa sakit.
Ahmad membersihkan seluruh badannya  dan membasuh pakaian tanpa membuka di pancuran di bawah petakan sawah. di bawahnya mengalir sungai kecil yang dangkal dan bersih, terlihat dari bebatuan yang dapt dengan jelas terlihat.

Sambil duduk di batu besar di tepian sungai, ahmad berpikir keras, kenapa peluru yang di ada pada senapannya bisa kosong semua, Ahmad yakin peluru yang di pakainya adalah sama dengan peluru yang selalu di siapkan untuknya ketika latihan. Mengapa bisa senapan yang sekarang sangat di butuhkan malah kosong ?

Terdengar suara riuh di kejauhan, ahmad naik ke atas.
"Celaka, mereka mencium jejak ku kemari" ahmad segera turun kembali, segera ia berlari menyusuri sungai. berlari dan terus berlari entah sampai kapan.

No comments: