Bingung, antara idelisme dan kenyataan, mungkin itu yang sedang di rasakan oleh Rina. Beberapa hari ini Rina bukan lagi Rina yang dulu. Beberapa hari ini Rina ingin merubah beberapa kebiasaannya dan juga hal-hal lain yang mungkin menurutnya sekarang tidak lagi cocok.
Anto... mungkin tak bisa jalan lagi dengannya. tapi bagaimana mengutarakan nya ? susah, rasanya akan sangat sulit kehilangan dia, akankah kata putus bisa terucap ? mungkin saja yang lain bisa kulakukan, tapi dengan anto ? apakah aku bisa ?
Seminggu yang lalu, rasanya baru kemarin ini, kami berjalan berdua dan di depan di masjid.
"To, lihat ada pesantren kilat"
"Emang kenapa ?" jawab Anto.
"Daripada di rumah nunggu sekolah di mulai, mending kita ikutan yuk !?" ajak Rina.
"Males... kan puasa juga udah lemesss". Anto menjawab pelan.
"Ikh kamu ini kan nanti kamu bisa seger liat aku terus".
"Ah ga bakalan, yang di liatnya juga lemes, gitu, yang ada malah nular",
"Ahhh ga ada romantisnya ini". Rina merajuk.
"Iya deh, ayoo. tapi kamu yang bayar yah daftarnya... Hehehehe, lagi bokek". Anto sambil cengengesan.
"Ketahuan tuh, pelit..." sambil langsung masuk ke halaman masjid.
"Bukan, bener nih, uang saku di pending sampai lebaran" Anto meyakinkan.
"Ya udah, ayo, sambil menarik tas Anto"
"Jangan di tarik dong", anto mengekor ke arah Rina pergi.
Setelah beberapa hari, Rina agak bingung. bukan materi yang tidak bagus, bukanya tidak masuk, justru sangat bisa di terima dan apa yang di sampaikan masuk dalam nalarnya. walau tidak hapal, Rina yakin apa yang di sampaikan di Pesantren Kilat itu adalah benar adanya. Kebingungannya karena apa yang disampaikan berbeda dengan kebiasan sehari harinya.
Paginya, ketika di jemput.
"To, besok aku pergi sendiri ya ?" ga usah di jemput.
"Loh kan sekalian supaya ga capek!" jawab anto.
"Ga ah ga enak, mending aku naik becak saja".
"Lho kok naik becak sih ? itung-itung bayar hutang .. heheheh nanti malah susah bayarnya. hehehehe"
"Ga enak to, rasanya ada yang salah gitu".
"Salah apa sih ?".
"Kamu dengerin pelajaran di masjid ga sih ?" Rina ketus.
"Denger..."
"Terus ?"
"Ya emang sih kayaknya salah, tapi kan kita pacaran harus gimana ?".
"Justru itu To salahnya, kita mesti pacaran segala"
"Ya iya, tapi..."
"To, Romadhon ini kita putus aja ya ?"
"Kok putus ?"
"Kan ga boleh pacaran Tooooo, kamu dengar nggak sih."
"Ya dengar, tapi kan memang ga usah putus" jawab Anto sambil memegang hidung dan sesekali di masukan juga ke lubangnya.
"Maksud mu ?" tanya Rina tidka mengerti.
"Kalau tak boleh pacaran ya memang tak usah putus. kan cuma yang pacaran yang punya kata putus".
"Iya ya", Rina menjawab pendek. "Besok kamu ga usah jemput ya".
"Iya....." Jawab Anto Pendek. "Tapi besok aku kirim tukang becak ya.
"Ok, makasih ya"
Rina senang, kegalauannya satu persatu hilang, dugaan terberat yang mungkin datang dari pacarnya Anto, ternyata salah. pagi ini Rina perggi meneylesaikan hari terakhir Pesantren Kilat. Menunggu becak yang kemarin di janjikan Anto. Agak lama juga, mungkin karena Rina yang terlalu pagi menungggu.
Dari kejauhan becak datang. agak lama juga, padahal dari tadi sudah kelihatan. Aneh nih pikir Rina, Apa yang narik Puasa juga pikirnya. Biasanya kan tukang becak jarang ada yang puasa.
"Bang Cepet Sini.. "
Beberapa lama tukang becak sudah menghampiri.
"Antoooo!!"
"Hehehehe" Tukang becak yang ternyata Anto tertawa.
"Kamu ngapain ?"
"Jemput kamu ."
"Kan udah di bilang, ga usah jemput, ini malah bawa becak segala !!"
"Kan kita belum putus , heheheh"
"Antoooo, ikh kamu !!" Rina agak berteriak.
"Maaf bercanda, kan biarpun kita ga pacaran, boleh kan kalau jemput asal ga dempetan kayak pake motor. lagian daripada di bawa sama tukang becak mending sama aku."
"Bener nih mau jemput terus pakai becak ?, nanti sekolah di mulai, jemput juga ya !" tanya Rina menggoda.
"Hmmm" Nggak lah, nati orang sekecamatan bisa geger , Hahahaha"
Rina Ikut tertawa, dan mereka pun pergi dengan Anto sebagai penarik Becaknya.
Selepas Pesantren kilat, hati Rina kian mantap, sekarang aku bukan Rina yang dulu, pakaian yang sekarang di pakai tak akan ku rubah, walau Roamadhon sudah berlalu dan mudah-mudahan semua orang mendukung apa yang Rina lakukan.
*** Selamat menunggu sahur bagi para panitia Pesantren Kilat, mudah-mudahan ada cahaya dalam sambaran kilat ^_^
No comments:
Post a Comment