Sunday, April 11, 2021

Sarung Baru

 "Sarung lagi. ... tapi pemakainya malah suka di ejek" pikirnya.... sambil menenteng plastik merk toko ternama. Yang pasti bukan toko pakaian.

Beberapa kali berlawanan arah dengan orang cuma menggangguk atau menjawab salam.

"Pak ustadz mau kemana? "

"Ya kemari"

Atau "Assalamualaikum"

Jawab pendek "Walaikum Salam"

Yang lebih ga enak walau sambil bercanda kadang ada yang menyapa "Belum kering sunatannya? "

"Iya nih belum" jawabnya sambil terpaksa senyum.

Sambil terus berjalan menuju rumah, karena sudah dari tadi pagi belum pulang. Di warung sebelah masjid. Ada yg menyapa.

"Mampir pak ustadz"

"O iyah makasih"

"Sebentar lah. Ayo kita ngopi, saya yang bayari.

Terpaksa juga akhirnya mampir. "O iyah makasih. Kopi bu jangan di aduk ya"

"Iya pak bentar saya siapkan" penjaga warung menimpali.

"Eh maaf kirain si ibu" saya terkaget melihat yang buatin kopi ternyata suaminya.

"Ga apa hahaha" si bapa warung kemudian tersenyum.

Sambil menunggu kopi kita pun mulai bercengkrama. Sambil di selingi sedikit gigitan gorengan yang ada.

Obrolanpun tambah hangat ketika kopi mulai datang. Kebetulan di warung ini kopi agak lama karena nunggu air matang dulu.

"Begini loh pak Ustadz. Saya mau nyekolahkan anak ke pesantren. Kira kira dimana yg murah kalau bisa gratis."

"Lah pak Agus ini aneh" jawab saya pendek.

"Kenapa toh pak? " 

"Pesantren kan swasta. Tidak di danai pemerintah. Malah kemungkinan biayanya lebih mahal." Jawab saya.

"Kan banyak pesantren yg di danai sama pengusaha seperti di kota sebelah. Bangunannya bagus dan katanya bayaranpun di tanggung pengusaha itu" jawab pak agus dengan yakin.

"Isu itu pak, tetep bayar lah." 

"O" pak agus menimpali pendek.

"Iya pak. Kalau kesitu tetep bayar, dobel malah bayarnya, malah bukan cuma ada iuran bulanan. Makan pun bayar"

"Ga jadi deh masukin anak peaantren" pak agus agak kecewa.

"Ya kalau ngitungya begitu mahal pak.mesantren mending jangan.."

"Lho kok malah pak ustadz yg bilang jangan mesantrenin anak?" pak agus tanda tanya.

"Kalau ngitungnya kesitu pasti mahal di bandingkan sama sekolah negri. Tapi oelajaran kan dobel bukan cuma pelajaran umum ada muatan pesantren dan makan pun saya kira cuma pindah makan. Kalau di kalkulasi cuma 5000an sekali makan. Murah lah.

Pak agus merenung "Iya juga sih, cuma pendapatan saya pas pasan."

"Sama saja pak saya juga kerja serabutan. Anak ada 2 di pesantren." 

"Oh gitu"

"Iya pak walau di rumah seadanya, kita ngusahain.sekolah anak sekuatnya" jawab saya.

"Oh bapak mesantren juga dulu, jadi sudah biasa" pak agus kembali bertanya.

"Oh enggak.pak. saya lulusan sekolah umum" jawab saya lirih.

"Oh kirain lulusan pesantren, kemana mana suka sarungan." Terbersit tanda tanya di kening pak agus.

"Bukan pak, Saya cuma sarungan saja. Adanya itu" sambil di paksakan senyum.

Pak agus tambah berkerenyit. Seperti ada yang di pikirkan. Karena teringat sudah malam.menuju jam sembilan malam akhirnya saya cepat cepat pamit.

"Mari pak sepertinya saya udah pada nunggu yang di rumah"

"Berapa pak. gorengan 3 kopi 1." Kata saya ke pemilik warung.

"Udah nanti saya bayari" pak agus memotong"

"Iya makasih pak" sambil beranjak pergi.

"Ini lho bungkusan ketinggalan." Pak agus menarik tangan.

"Oh iya pak makasih. Modal ini buat jadi ustadz setahun lagi." Jawab saya sambil tersenyum.

" Apa isinya kok buat modal jadi Ustadz." Tanya pak agus.

"Itu lho pak dapat hadiahan dari toko depan. Sarung" jawab saya sambil cekikikan.

"Lah ada ada saja." Pak agus sama sama tertawa.

"Mari pak Assalamualaikum"

"Walaikum salam" pak agus dan.pemilik warung menjawab spontan.


Thursday, October 29, 2020

Cuma Punya Modal HP

Alkisah Zeus sang Dewa tetinggi memperhatikan pemudi yang sedang asik berbicara dengan seorang pemuda. "Mesra Banget, apa sih rahasia pemuda itu, bisa mendekati wanita yang begitu cantik" Zeus agak kesal, merasa tersaingi.

Zeus pun mendekati, dengan kehebatanya, dia bisa beubah jadi apa saja, lalu menempel di sebuah daun dekat mereka sebagai belalang.(mungkin karena zeus hidung belang :v mirip kan sama belalang)

di dalam percakapan Zeus mendengar sang wanita bertanya.
Wanita : "Abaaang, kenapa sih nomer hp ku tidak di simpan"
Pria : "Kan aku selalu mengingat nomermu, apakah kurang dengan selalu mngingatmu di dalam hatiku"
Wanita : " ih Abang, ternyata abang emang sayang ya"
Zeus yang mendengar mulai tahu kenapa si wanita bisa terpikat, karena ternyata cinta si pria sangat tulus.

......

Di lain hari Zeus mengikuti seorang gadis cantik, tapi ternyata bertemu dengan pemuda yang kemarin. "lho ini kan pemuda baik yg kemarin yg cintanya sangat tulus" kemudian dia berubah lai jadi belalang dan mendekati keduanya. si gadis cemberut.
Pria : "Apa maslahnya ?"
Wanita : "Kenapa sih kamu malah seperti yang tidak perhatian sama aku"
Pria ; "apa yg kuang perhatian, kan setiap aku sms tetap aku jawab"
Wanita : "kenapa sih di hp kamu tidak ada nama aku, pasti punya cewek lain ya."
Pria : " "Bukan begitu, kan malah aku sangat ingat kamu, buktinya nomernya saja ingat betul"
Wanita : " tapi kjok aneh ga seperti orang lain, kalau orang itu kan malah di simpan"
Pria : "Kan sayang ku berbeda, tidak seperti pria lain"
Si wanitapun, mulai tersenyum, "Bener nih.. ga bohong"
Pria : " Iya dong sayanggg "

Zeus yg memperhatikan, perutnya mulai mual, ternyata ada juga manusia yg lebih gombal dari dirinya. "Ternyata ada juga manusia yg begini, akan kutanyakan yg sebenarnya alasan, tidak menyimpan nomer hp pacar pacarnya."

....
Di jalan pulang menuju rumahnya, si poemuda terkejut, tiba tiba, langit gelap dan kilat menyambar kesana kemari, dan tiba tiba dia merasa seorang diri, tertutup awan putih.
"Ada apa ini," Si pemuda ketakutan.
Kemudian Zeus menampakan wajah aslinya yg kekar dan seram. "hei Pemuda, aku tahu kebohongan mu pada para pacarmu. Apakah kamu mau saya hukum"
"Ampun... saya mengaku, bohong"
"Ya Kenapa, Kenapa Kamu Berbohong"
"Karena saya cuma punya hp ini satu satunya"
Emangnya kenapa
Sudah sering terjadi sama teman saya, kalau ketahuan nyimpen nomer cewek di hpnya bakalan di banting.
Karena kamu seprofesi dengan saya, cowok hidung belang, maka saya kamu lepaskan.
si pemuda pun lari sekencang kencangnya.

Zeus pun akhirnya mngeikuti cara si pemuda, tapi sebelumnya, dia menggadaikan mahkotanya buat beli HP, dan jadilah Zeus manusia biasa. "Ternyata jadi manusia biasa bisa juga dapat selingkuhan"
Tapi berita selanjutnya Zeus binasa di tangan Hera, karena cemburu dan Zeus tidak bisa melawan karena sudah berubah jadi manusia.

Wednesday, August 2, 2017

1. Nama Aneh

"Nama aneh, rutuknya dalah hati," sekelebat kemudian, "maafkan anakmu ayah, bukan maksudku durhaka"

"Aneh... apa ayah tidak pernah mendengarkan musik ?"

"Ah jaman itu memang susah, tak ada waktu buat ayah berleha leha."

"Bang Gali ....." suara memanggil dari belakang. Terlihat seorang gadis mendekt dari belakang.

"Bang!, diam aja sih ga nengok"
"Apa sih pake pegang- pegang segala" Gali menpercepat langkahnya.
"Ih abangggg" kok gitu sih sama aye"
"Diem tau, malu di liatin orang, lagian cewek pegang pegang cowok ga boleh"
"Ih gitu deh, curiga semenjak sering ke kampung sebelah jadi gini"
Gali berhenti, membalikan badannya. Berdiri tegak sambil menatap perempuan di depannya. " Kalau abang tambah baik apa salah ? Kan udah tau kalau perempuan itu sama laki ga boleh bersemtuhan kulit. Haram tau ?!"
"Iya tau... maafin Nining ya... "
"Ga usah minta maaf." Sambil berbalik lagi melanjutkan melngkah.

Perempuan yg namanya di sebut Nining pun mengikuti. Kemudian Gali berkata lagi sambil berjalan. "Kamu ini kan lulusan pesantren, makin kesini pakaian makin ketat saja."
"Ih abang"
"Ih apa! Lebih baik pesantren lagi biar pakai pakaiannya kelihatan baik"
"Iya bang, maaf"
"Maaf lagi, sana minta maaf sama orang tua kau"

Sambil terus mengikuti, Nining sesekali melihat ke Gali. Sambil tersenyum. Sampai di gang kecil nining berbelok. "Nanti mampir kerumah Bang. Assalamualaikum"

Gali berhenti, menengok dan membalas salam. "Wa Alaikum salam".

Kembali melanjutkan langkah dan pikirannya.. "ahhhrghhh"

Tak sadar, sepasang mata lentik mengawasi.

Ettt ga salahh... wah banyak wanitanya ini cerita. Udahan dulu ya.. banyak yg neror penulisnya.

Monday, May 29, 2017

Mang Hasan Jadi Haji

Berita dari mulut ke mulut. kabarnya Mang Hasan jadi Haji mulai tersebar. dari ibu ibu pengajian, sampai warung kopi. Yang jadi pertanyaankapan Mang Hasan pergi Haji.

Tidak ada satu orang pun yang menyangkal, kalau Mang Hasan kini jadi lebih rajin ke Masjid. bahkan bisa di bilang dari 5 waktu tak pernah bocor. dari seminggu tak pernah Mang Hasan tidak datang. Kalau ukuran yang pernah menunaikan Haji, tentulah ini di sebut Haji Mabrur.

Tapi yg jadi pertanyaan, kapan Mang Hasan pergi Haji, Jangankan Haji, untuk umroh saja sepertinya belum pernah ada yg mendengar Mang Hasan berangkat. dari berita yg memuji Manghasan getol Ibadahnya, kini mulai berganti berita Mang Hasan Berbohong.

Kebetulan pas ada pengajian Mang Hasan menghadiri. setelah bubaran, mang hasan di tahan, oleh DKM.
Kebetulan hari itu ada pak ustad yg di tuakan di kampung sedang ada di rumah.
"Gini Mang, sebetulnya saya minta maaf, karena ada rumor tidak enak" kata Pak Ustad.
"Silahkan pak, kalau ada persoalan, lebih baik di buka saja" mang hasan menimpali.
Pak Ustad, " Apa benar Mang Hasan Mengaku Pernah Berangkat Haji ?"
"Tidak pernah Pak", Jawab mang Hasan
"Terus bagaimana bisa orang menganggap Mang Hasan sudah pergi Haji"
"Saya juga tidak tahu, kalau yg manggil pak haji banyak" jawab Mang hasan

"Nah para bapak, jadi Mang Hasan belum pernah ngaku ngaku pernah naik haji" kata Pak Ustad ke pada para hadirin.
"Saya kira cuma salah paham saja, kalau Mang Hasan ngaku, ngaku pernah berangkat haji. saya perhatikan, juga itu terjadi ketika Mang Hasan sering ke Masjid baru ada kabar Mang Hasan sudah Haji"
Mang hasan bertanya , " Apa salah pa ustad saya ke Masjid?"
Pak Ustad , "Ah tidak mang, semua kita malah wajib ke masjid, malah harusnya yg sudah Haji lebih giat ke Masjid daripada yang belum"
Nah karena pengajian sudah selesai sekarang silahkan pulang ke rumah masing masing.

Saturday, July 27, 2013

Romadhon ini Kita Putus

Bingung, antara idelisme dan kenyataan, mungkin itu yang sedang di rasakan oleh Rina. Beberapa hari ini Rina bukan lagi Rina yang dulu. Beberapa hari ini Rina ingin merubah beberapa kebiasaannya dan juga hal-hal lain yang mungkin menurutnya sekarang tidak lagi cocok.

Anto... mungkin tak bisa jalan lagi dengannya. tapi bagaimana mengutarakan nya ? susah, rasanya akan sangat sulit kehilangan dia, akankah kata putus bisa terucap ? mungkin saja yang lain bisa kulakukan, tapi dengan anto ? apakah aku bisa ?

Seminggu yang lalu, rasanya baru kemarin ini, kami berjalan berdua dan di depan di masjid.
"To, lihat ada pesantren kilat"
"Emang kenapa ?" jawab Anto.
"Daripada di rumah nunggu sekolah di mulai, mending kita ikutan yuk !?" ajak Rina.
"Males... kan puasa juga udah lemesss". Anto menjawab pelan.
"Ikh kamu ini kan nanti kamu bisa seger liat aku terus".
"Ah ga bakalan, yang di liatnya juga lemes, gitu, yang ada malah nular",
"Ahhh ga ada romantisnya ini". Rina merajuk.
"Iya deh, ayoo. tapi kamu yang bayar yah daftarnya... Hehehehe, lagi bokek". Anto sambil cengengesan.
"Ketahuan tuh, pelit..." sambil langsung masuk ke halaman masjid.
"Bukan, bener nih, uang saku di pending sampai lebaran" Anto meyakinkan.
"Ya udah, ayo, sambil menarik tas Anto"
"Jangan di tarik dong", anto mengekor ke arah Rina pergi.

Setelah beberapa hari, Rina agak bingung. bukan materi yang tidak bagus, bukanya tidak masuk, justru sangat bisa di terima dan apa yang di sampaikan masuk dalam nalarnya. walau tidak hapal, Rina yakin apa yang di sampaikan di Pesantren Kilat itu adalah benar adanya. Kebingungannya karena apa yang disampaikan berbeda dengan kebiasan sehari harinya.

Paginya, ketika di jemput.
"To, besok aku pergi sendiri ya ?" ga usah di jemput.
"Loh kan sekalian supaya ga capek!" jawab anto.
"Ga ah ga enak, mending aku naik becak saja".
"Lho kok naik becak sih ? itung-itung bayar hutang .. heheheh nanti malah susah bayarnya. hehehehe"
"Ga enak to, rasanya ada yang salah gitu".
"Salah apa sih ?".
"Kamu dengerin pelajaran di masjid ga sih ?" Rina ketus.
"Denger..."
"Terus ?"
"Ya emang sih kayaknya salah, tapi kan kita pacaran harus gimana ?".
"Justru itu To salahnya, kita mesti pacaran segala"
"Ya iya, tapi..."
"To, Romadhon ini kita putus aja ya ?"
"Kok putus ?"
"Kan ga boleh pacaran Tooooo, kamu dengar nggak sih."
"Ya dengar, tapi kan memang ga usah putus" jawab Anto sambil memegang hidung dan sesekali di masukan juga ke lubangnya.
"Maksud mu ?" tanya Rina tidka mengerti.
"Kalau tak boleh pacaran ya memang tak usah putus. kan cuma yang pacaran yang punya kata putus".
"Iya ya", Rina menjawab pendek. "Besok kamu ga usah jemput ya".
"Iya....." Jawab Anto Pendek. "Tapi besok aku kirim tukang becak ya.
"Ok, makasih ya"

Rina senang, kegalauannya satu persatu hilang, dugaan terberat yang mungkin datang dari pacarnya Anto, ternyata salah. pagi ini Rina perggi meneylesaikan hari terakhir Pesantren Kilat. Menunggu becak yang kemarin di janjikan Anto. Agak lama juga, mungkin karena Rina yang terlalu pagi menungggu.

Dari kejauhan becak datang. agak lama juga, padahal dari tadi sudah kelihatan. Aneh nih pikir Rina, Apa yang narik Puasa juga pikirnya. Biasanya kan tukang becak jarang ada yang puasa.
"Bang Cepet Sini.. "
Beberapa lama tukang becak sudah menghampiri.
"Antoooo!!"
"Hehehehe" Tukang becak yang ternyata Anto tertawa.
"Kamu ngapain ?"
"Jemput kamu ."
"Kan udah di bilang, ga usah jemput, ini malah bawa becak segala !!"
"Kan kita belum putus , heheheh"
"Antoooo, ikh kamu !!" Rina agak berteriak.
"Maaf bercanda, kan biarpun kita ga pacaran, boleh kan kalau jemput asal ga dempetan kayak pake motor. lagian daripada di bawa sama tukang becak mending sama aku."
"Bener nih mau jemput terus pakai becak ?, nanti sekolah di mulai, jemput juga ya !" tanya Rina menggoda.
"Hmmm" Nggak lah, nati orang sekecamatan bisa geger , Hahahaha"
Rina Ikut tertawa,  dan mereka pun pergi dengan Anto sebagai penarik Becaknya.

Selepas Pesantren kilat, hati Rina kian mantap, sekarang aku bukan Rina yang dulu, pakaian yang sekarang di pakai tak akan ku rubah, walau Roamadhon sudah berlalu dan mudah-mudahan semua orang mendukung apa yang Rina lakukan.



*** Selamat menunggu sahur bagi para panitia Pesantren Kilat, mudah-mudahan ada cahaya dalam sambaran kilat ^_^

Tuesday, July 23, 2013

3. Markas Yang Terkepung

Baca cerita sebelumnya

Hari Kamis, tepat setahun. Hari ini komeng dan teman-temannya sudah berjanji berkumpul. mengevaluasi apa yang telah merka kerjakan selama satu tahun. apa saja yang di dapatkan dan apa yang akan mereka kerjakan kemudian.

Tepat jam lima sore komeng pergi membawa tas. berjalan menyuri jalan desa yang sudah terlihat lobang di sana dan disini. biasanya jalan akan bagus lagi bila mendekati pemilihan. para calon menyumbang untuk pembangunan jalan, baik itu di minta atau ada anggota masyarakat yang mengajukan permintaan.

Di depan sudah terlihat jembatan yang dari dulu masih terbuat dari rangka besi dan dai lapisi kayu untuk perlintasan. jalan ini menghubungkan ke sebuah hutan yang kini sudah habis di babat oleh keluarga penguasa negri ini.

Terlihat ada dua orang yang sedang duduk-duduk disana. duduk bertengger di rangka besi jembatan. Komeng tersenyum dan melambaikan tangan. berlari dan menghampiri kedua orang tersebut.
"Assalamualaikum!"
"Walaikum salam " serentak mereka berdua menjawab.
Ternyata yang menunggu adalah Iwan dan Asep. mereka memelum Komeng bergantian.
"Sudah lama di sini ?
"Belum Meng" sahut iwan.
"Iya, kami nunggu di sini soalnya kita ga bakalan bisa kesana kayaknya" Asep menyambung.
"Memang kenapa ?" Komeng bertanya terheran-heran.

"Maaf den ikut lewat ..", seorang yang perawakannya tua lewat, dengan beberapa orang lainnya. terlihat mereka membawa beberapa bungkusan plastik dan tikar.
"Silahkan pak" Iwan menjawab.

"Jadi ramai ya sekitar sini" Komeng bertanya.
"Semenjak kita pergi, banyak orang datang kesini", jawab iwan.
"bukan itu saja, malah mereka menghalangi jalan ke rumah pohon kita Meng" tambah Asep.
"Wah bagaimana bisa begitu ?"
"Iya semenjak adanya togel, orang semakin banyak yang berkunjung ke rumah pohon kita."
"Lebih tepatnya, meminta wangsit disana!" tambah Asep.
"Duh, Kenapa jadi begini ?" Komeng menepak kepala.
"Yuk kita lihat kalau kamu tidak percaya", Iwan menarik tangan komeng.

Berbeda dengan orang yang datang, Komeng, Iwan dan Asep jalan memutar menyusuri sungai dan berbelok ke kiri. mereka memasuki hutan kecil. di sana mereka dapat melihat dengan jelas keadaan sekitar. bukan hanya kakek-kakek, orang paruh baya dan anak muda pun ada di sana. dan ada beberapa ibu-ibu yang ikut juga mengitari pohon besar.

Pohon rindang sepintas aneh. pohon dengan dahan rindang, dahan dahannya menyebar jauh dengan daun kecil. tapi ada juga daun yang bergerombol di tengah dengan akar-akar yang menggantung. Komeng Iwan dan Asep sudah tahu, kalau pohon itu terdiri dari dua pohon yang terikat
 bersama di kala masih kecil. itu adalah pohon trembesi dengan pohon beringin. mereka menjadikan pohon itu markas tempat
 tinggal di kala pulang sekolah dan mengerjakan apa saja di sana.

"Wah tidak betul ini, tempat kita jadi seperti warung kopi begini, ramai". gerutu Komeng
"Iya Meng" Asep menimpali.
"Bagaimana kita masuk?" Iwan menyambung lagi
"Sepertinya kita tangguhkan besok pagi, kalau orang-orang ini sudah pergi".
"Ya Sepertinya memang harus begitu".
"Ayo kita pulang'. Kembali komeng berkata dengan nada rendah.
"Ayo mungkin besok orang sudah cape mengepung tempat ini". Iwan berkata
"Iya ayo kita lanjutkan besok."

Lalu mereka bertiga melangkah mundur dan memutar tubuh menjauhi tempat tersebut. besok petualangan ketiganya akan di mulai.


Pelarian

Hangat ... Lembab Dimana kah aku ini ? sudah berapa lama ?, kucoba menggerakan tangan ini, akh susah sekali. kucoba membuka mata, terasa perih, sedikit demi sedikit terlihat air, tanah dan ketika ku raba air di mana-mana. ku gerakan kaki pun susah seperti ada yang membanduli kedua kakiku.

Beberapa lama baru ku tahu kalau ada di petak sawah. bahuku terasa sakit sekali. kucoba bangkit dan melihat berkeliling, ada seorang petani jauh di sana. akh jangan sampai ada orang tahu ada disini, bisa berbahaya untukku dan juga mereka. Sambil menarik kakinya yang ternyata tertanam agak dalam ke lumpur ahmad mencari galengan terdekat.

Terdengar di kejauhan suara air gemiricik Ahmad melangkah mendekati suara air, "mungkin aku bisa membersihkan badan dan luka di sana. Terasa segar, pikirannya kembali mengingat-ngingat apa yang terjadi semalam.

"Dor, Dor" Sambil berlari Ahmad menambakan senjatanya, tapi orang-orang dengan rompi dan masker itu seperti tidak takut dengan senjata, mungkin karena paki rompi mereka sangat percaya diri. mereka tidak seperti sedang menghadapi musuh, lebih terlihat seperti sedang latihan saja.

Mereka belum tahu kalau aku adalah nomer satu di kamp. Dengan berguling dan berbalik menghadap ke arah orang yang mengejar ahmad mencoba kembali menembakan senjatanya. "pasti tepat" pikirnya. Beberapa kali tembakan, tetap saja tidak bisa merubuhkan orang di depannya, walau pakai rompi, seharusnya mereka takut kena kaki atau mungkin akan tetap terasa sakit, tapi sepertinya tidak ada satupun peluru yang mengenai sasaran. kaget bercampur heran bercampur dalam pikiran ahmad. tidak mungkin tidak ada yang kena satupun.

kios bensin itu, ya mungkin itu bisa menyelamatkan, dengan cepat di tembaknya kios bensin pinggir jalan.
"dor, dor dor ".
"Sial, ini senjata seperti tidak ada pelurunya". ahmad terkejut. tidak ada satupun botol yang pecah dan terbakar. botol bensin itu masih di sana tidak bergeming. sementara orang yang mengejarnya semakin dekat saja. dengan cepat di lemparkan senjata yang di peganggnya ke arah mereka dai sekuat ten berlari sekuat tenaga.

Berlari dan terus berlari, sambil sesekali menoleh ke belakang. seberapa kuatnya berlari tetap saja tidak bisa jauh dari kejaran. ahmad sudah tidak tau berada di mana, yang hanya ingin dia lakukan terus berlari dan berlari terus. bunyi dentingan benda keras beradu berkali-kali terdengar. mereka pasti memakai peredam pikirnya.

Tiba-tiba terasa pundaknya panas, di raba dan terasa ada cairan hangat mengalir deras.
"Darah"
sambil terus berlari, terlihat di samar-samar depan ada jembatan. jalan yang di lihatnya semakin lama semakin gelap. semakin gelap, tapi Ahmad tetap memacu kakinya untuk berlari hingga.
"buk" tubuhnya terbentur dan terasa tubuhnya melayang.

"Untung pelurunya tembus pikir Ahmad, sambil membasuh luka di pundaknya. darahnya sudah berhenti, tapi tetap saja masih terasa sakit.
Ahmad membersihkan seluruh badannya  dan membasuh pakaian tanpa membuka di pancuran di bawah petakan sawah. di bawahnya mengalir sungai kecil yang dangkal dan bersih, terlihat dari bebatuan yang dapt dengan jelas terlihat.

Sambil duduk di batu besar di tepian sungai, ahmad berpikir keras, kenapa peluru yang di ada pada senapannya bisa kosong semua, Ahmad yakin peluru yang di pakainya adalah sama dengan peluru yang selalu di siapkan untuknya ketika latihan. Mengapa bisa senapan yang sekarang sangat di butuhkan malah kosong ?

Terdengar suara riuh di kejauhan, ahmad naik ke atas.
"Celaka, mereka mencium jejak ku kemari" ahmad segera turun kembali, segera ia berlari menyusuri sungai. berlari dan terus berlari entah sampai kapan.