"Sarung lagi. ... tapi pemakainya malah suka di ejek" pikirnya.... sambil menenteng plastik merk toko ternama. Yang pasti bukan toko pakaian.
Beberapa kali berlawanan arah dengan orang cuma menggangguk atau menjawab salam.
"Pak ustadz mau kemana? "
"Ya kemari"
Atau "Assalamualaikum"
Jawab pendek "Walaikum Salam"
Yang lebih ga enak walau sambil bercanda kadang ada yang menyapa "Belum kering sunatannya? "
"Iya nih belum" jawabnya sambil terpaksa senyum.
Sambil terus berjalan menuju rumah, karena sudah dari tadi pagi belum pulang. Di warung sebelah masjid. Ada yg menyapa.
"Mampir pak ustadz"
"O iyah makasih"
"Sebentar lah. Ayo kita ngopi, saya yang bayari.
Terpaksa juga akhirnya mampir. "O iyah makasih. Kopi bu jangan di aduk ya"
"Iya pak bentar saya siapkan" penjaga warung menimpali.
"Eh maaf kirain si ibu" saya terkaget melihat yang buatin kopi ternyata suaminya.
"Ga apa hahaha" si bapa warung kemudian tersenyum.
Sambil menunggu kopi kita pun mulai bercengkrama. Sambil di selingi sedikit gigitan gorengan yang ada.
Obrolanpun tambah hangat ketika kopi mulai datang. Kebetulan di warung ini kopi agak lama karena nunggu air matang dulu.
"Begini loh pak Ustadz. Saya mau nyekolahkan anak ke pesantren. Kira kira dimana yg murah kalau bisa gratis."
"Lah pak Agus ini aneh" jawab saya pendek.
"Kenapa toh pak? "
"Pesantren kan swasta. Tidak di danai pemerintah. Malah kemungkinan biayanya lebih mahal." Jawab saya.
"Kan banyak pesantren yg di danai sama pengusaha seperti di kota sebelah. Bangunannya bagus dan katanya bayaranpun di tanggung pengusaha itu" jawab pak agus dengan yakin.
"Isu itu pak, tetep bayar lah."
"O" pak agus menimpali pendek.
"Iya pak. Kalau kesitu tetep bayar, dobel malah bayarnya, malah bukan cuma ada iuran bulanan. Makan pun bayar"
"Ga jadi deh masukin anak peaantren" pak agus agak kecewa.
"Ya kalau ngitungya begitu mahal pak.mesantren mending jangan.."
"Lho kok malah pak ustadz yg bilang jangan mesantrenin anak?" pak agus tanda tanya.
"Kalau ngitungnya kesitu pasti mahal di bandingkan sama sekolah negri. Tapi oelajaran kan dobel bukan cuma pelajaran umum ada muatan pesantren dan makan pun saya kira cuma pindah makan. Kalau di kalkulasi cuma 5000an sekali makan. Murah lah.
Pak agus merenung "Iya juga sih, cuma pendapatan saya pas pasan."
"Sama saja pak saya juga kerja serabutan. Anak ada 2 di pesantren."
"Oh gitu"
"Iya pak walau di rumah seadanya, kita ngusahain.sekolah anak sekuatnya" jawab saya.
"Oh bapak mesantren juga dulu, jadi sudah biasa" pak agus kembali bertanya.
"Oh enggak.pak. saya lulusan sekolah umum" jawab saya lirih.
"Oh kirain lulusan pesantren, kemana mana suka sarungan." Terbersit tanda tanya di kening pak agus.
"Bukan pak, Saya cuma sarungan saja. Adanya itu" sambil di paksakan senyum.
Pak agus tambah berkerenyit. Seperti ada yang di pikirkan. Karena teringat sudah malam.menuju jam sembilan malam akhirnya saya cepat cepat pamit.
"Mari pak sepertinya saya udah pada nunggu yang di rumah"
"Berapa pak. gorengan 3 kopi 1." Kata saya ke pemilik warung.
"Udah nanti saya bayari" pak agus memotong"
"Iya makasih pak" sambil beranjak pergi.
"Ini lho bungkusan ketinggalan." Pak agus menarik tangan.
"Oh iya pak makasih. Modal ini buat jadi ustadz setahun lagi." Jawab saya sambil tersenyum.
" Apa isinya kok buat modal jadi Ustadz." Tanya pak agus.
"Itu lho pak dapat hadiahan dari toko depan. Sarung" jawab saya sambil cekikikan.
"Lah ada ada saja." Pak agus sama sama tertawa.
"Mari pak Assalamualaikum"
"Walaikum salam" pak agus dan.pemilik warung menjawab spontan.
No comments:
Post a Comment